HUTAN
KOTA DAN LINGKUNGAN PERKOTAAN
YANG
NYAMAN, SEHAT DAN ESTETIS
Oleh:
ZOER'AINI
DJAMAL IRWAN
Sesungguhnya dalam
penciptaan langit dan bumi, silih
bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa apa
yang berguna bagi manusia dan apa
yang Allah turunkan dari langit berupa air,
lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati
(kering)-nya dan Dia sebarkan dibumi itu segala
jenis hewan dan pengisaran
angin dan awan yang dikendalikan
antara langit dan bumi; sungguh (terdapatlah) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran
Allah) bagi kaum yang memikirkannya (Q:2:164)
Dan apabila berpaling (dari mukamu), ia
berjalan dibumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman
dan binatang ternak, sedang Allah tidak menyukai kebinasaan (Q:2: 205)
MASALAH
LINGKUNGAN PERKOTAAN
Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
(IPTEK) yang demikian pesat telah menyebabkan peta ekonomi dan politik dunia
berubah secara mendasar, membawa tantangan-tantangan baru, masalah-masalah baru
dan peluang-peluang baru, serta, harapan-harapan baru. Bumi telah mengalami
perubahan lingkungan yang besar seperti tingginya konsentrasi gas-gas rumah
kaca karena aktivitas manusia konon menimbulkan perubahan iklim.Tingginya
kandungan CFCs di atmosfir yang merusak lapisan ozon. Begitu pula dimana-mana
terjadi kerusakan-kerusakan seperti kerusakan hutan, proses pembentukan gurun
pasir, kemusnahan berbagai spesis flora dan fauna, erosi, pencemaran udara
masalah kebisingan dan menurunnja kualitas udara di perkotaan, suhu udara yang
semakin meningkat, tingkat polusi udara semakin tinggi,rusak atau hilangnya
berbagai habitat yang diikuti menurunnya
keanekragaman flora dan fauna, hilangnya dan atau memudarnya keindahan dan
pemandangan kota, hilangnya berbagai budaya, serta munculnya berbagai macam
masalah sosial, pencemaran air maupun pencemaran bumi. Kerusakan lingkungan
disebabkan karena pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkontrol dan tidak
seimbang dengan peningkatan kualitas atau kemampuan dalam mengelola sumberdaya.
Arti kata bahwa perkembangan penduduk secara kuantitas perkembangannya tidak
berimbang dengan kualitas, dan perimbangan mobilitas penyebarannya. Setiap
pembangunan lahan hijau atau vegetasi selalu menjadi korban. Padahal vegetasi
mempunyai peranan penting dalam ekosistem. Dalam menghadapi lingkungan global
memasuki abad XXI sudah waktunya untu mengkaji kualitas lingkungan dan lansekap
perkotaan yang memberikan suasana, nyaman, sehat dan este-tis. Disamping
kerusakan lingkungan disebabkan langsung oleh manusia,juga terjadi kerusakan
secara alamiah atau peristiwa alam, seperti gempa tektonik, letusan gunung
berapi atau angin tofan. Masalah lingkungan ini dapat dihubungkan dengan
peringatan Tuhan (Q:30: 41) yang terjemahannya berbunyi:
Telah nampak kerusakan di darat dan di
laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada
mereka sebahagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan
yang benar)".
Pembangunan kota baru yang teduh, nyaman, sejuk dan indah sebagai kota satelit Jakarta sudah banyak
seperti Bintaro Jaya, Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk,
Kelapa Gading dan lainnya.
Ebenezer Howard sebagai pencetus pertama
yaitu paham kota baru di Inggris di abad ke-19 menyebutnya sebagai
"Garden Cities". Pada tahun 1951 di Jakarta, Kebayoran Baru telah
selesai dibangun dengan luas sekitar 730 ha pada waktu itu sebagai kota satelit
Jakarta yang dirancang sejak tahun
1948 dengan sangat rapih dan teratur. Kebayoran Baru merupakan kota yang
hijau, nyaman, sejuk, estetis dan sehat yang diperuntukkan untuk 100.000 orang
penduduk. Pada waktu itu penduduk Jakarta hanya berjumlah 1.661.125 orang dan
lokasi Kebayoran Baru sewaktu itu dianggap udik (pinggiran kota atau desa), dan
transportasi masih kurang. Pembangunan
kota satelit Kebayoran Baru, dilaksanakan dengan ketat sekali sesuai
dengan apa yang telah direncanakan, juga
dirancang dengan pertimbangan proyeksi
pertambahan jumlah penduduk. Walaupun perencanaan tersebut masih di jaman
"Belanda" namun pelaksanaanya oleh bangsa Indonesia. Dalam hal ini
bangsa Indonesia sudah membuktikan bahwa bangsa kita dulu pada tahun 1951 telah berhasil membangun
kota satelit yang nyaman, sehat dan estetis, seimbang, teratur dan tertib yaitu
Kebayoran Baru yang cukup luas. Direncanakan pula pada waktu itu jika penduduk
terus ber-kembang maka akan dibangun pula kota-kota satelit berikutnya. Betapa
nikmatnya jika rencana yang sudah teratur dan baik dapat terlaksana sesuai
dengan perencanaan. Namun dalam pelaksanaannya yang terjadi adalah tambal sulam. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal
seperti:
1.
Pertambahan
penduduk yang cepat sekali.
2.
Perencanaannya
yang tidak matang dan selalu ketinggalan.
3.
Persepsi
para perancang dan pelaksana belum sama dan belum berkembang
4.
Pelaksanaan
yang tidak sesuai dengan perencanaan.
5.
Kebutuhan
yang sangat mendesak.
6. Wawasan
diantara para perencana yang belum berwawasan lingkungan, dengan pandangan yang
tidak jauh kedepan.
Pembangunan disana-sini menjadi sulit dikontrol,
sehingga terjadilah kerancuan tataruang yang dihadapi sekarang, baik di kota satelit itu sendiri
maupun dikota induknya yaitu Jakarta. Dalam pada itu pula sabuk hijau yang sudah ada atau yang
telah direnca nakan sebagai penghubung
kota satelit dan kota induknya yang teduh, sejuk, nyaman dan estetispun
mulai rancu dan hilang atau musnah pula. Perkembangan kota-terus meningkat
bahkan banyak taman-taman atau jalur hijau yang telah berubah fungsi
Dalam
pada itu (Muhammad Danisworo,
1995) mengemukakan bahwa pada kenyataannya di dalam penerapan penyusunan suatu
rencana, kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dirumuskan untuk mencapai sasaran
perencanaan pada umumnya hanya melihat sisi pemerintah saja. Sering dilupakan
bahwa pembangunan kota tidak hanya oleh pemerintah saja, tetapi juga oleh pihak
swasta. Rancangan kota yang ada banyak yang kurang peka terhadap fenomena yang
terjadi di masyarakat sehingga kebijaksanaan kebijaksanaan perencanaan,
terutama yang menyangkut peruntukan lahan serta intensitas yang diijinkan
banyak yang bersifat "standar", artinya pendekatan perencanaan
untuk kota satu dan kota lainnya,
atau antara satu bagian kota dengan bagian
kota lainnya sering sama. Hal ini sering mengakibatkan rencana
kota tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Dikatakan pula bahwa kelemahan
rencana kota yang ada saat ini dapat dilihat bahwa di dalam pendekatan
perencanaan, para perencana kota lebih sering melihat kota sebagai
"benda fisik" daripada sebagai benda budaya. Padahal di negara kita
pada saat ini sedang berlangsung suatu proses transformasi budaya dimana
perpindahan tata cara hidup dari suatu kondisi ke kondisi yang lain sedang
berlangsung bagi sebagian besar anggota masyara-kat kita. Kota merupakan ajang
dimana fenomena ini berlangsung. Oleh karena itu kota sebagai suatu ruang besar
dimana terdapat berbagai bentuk kegiatan masyarakatnya mengambil tempat,
seharusnya akomodatif terhadap fenomena ini.
Dan fenomena ini berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.
Begitu pula kehidupan kota-kota di Indonesia diwarnai oleh
kontradiksi antara dua kutub sosial ekonomi maupun budaya yang cukup
tajam, yang berdampingan secara damai dan saling membutuhkan. Oleh karena itu
kota seharusnya mampu sebagai katalisator untuk membantu dan memperlancar
proses transformasi budaya ini. Hal ini kelihatannya masih kurang mendapat tempat di dalam rencana kota yang
ada.
Penduduk kota berhak mendapat lingkungan
yang nyaman, sehat dan estetis. Oleh karena itu mereka perlu
perlindungan dari berbagai masalah lingkungan yang merugikan.
Kota Jakarta sebagai contoh, merupakan kota besar berpenduduk hampir 15 juta
orang, cendrung menyebar kesegala penjuru kota bahkan ke pinggir kota mencari
lingkungan lebih murah, nyaman, sehat dan estetis. Pembangunan fisik kota Jakarta seperti pemukiman terus
berkem-bang, mulai dari gubuk-gubuk liar, bangunan sederhana sampai super
canggih, yang dilengkapi pusat-pusat perdagangan, transportasi umum. Ini semua
telah menimbulkan masalah dan kekhawatiran, karena semua pembangunan itu telah
menyebabkan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan. Dalam
pada itu kecenderungan kota Jakarta menjadi model bagi kota-kota lainnya
di Indonesia, daerah-daerah akan mencotoh kerancuan tataruang yang telah
terjadi tersebut.
PEMBANGUNAN
HUTAN KOTA
Vegetasi dalam ekosistem berperan sebagai
produsen pertama yang
merubah energi surya menjadi energi potensial untuk makhluk
lainnya, sebagai sumber hara mineral dan perubah terbesar lingkungan serta
meningkatkan kualitas lingkungan. Sejak jaman nenek moyang di Indonesia,
pekarangan rumah ditanami dengan berbagai jenis tanaman, mulai dari yang
memanjat, semak, rerumputan atau penutup tanah, pepohonan, bunga-bungaan dan
hewan ternak. Semua ini maksudnya agar dapat memetik hasilnya setiap saat bila
diperlukan, diberikan ke tetangga atau dinikmati kesejukan dan keindahannya
sehingga memberikan kenyamanan fisik dan sosial (Zoer'aini Djamal Irwan, 1979).
Menurut Soemarwoto (1983) pekarangan mempunyai fungsi ganda yang merupakan
integrasi antara fungsi alam dengan fungsi untuk memenuhi kebutuhan sosial,
budaya dan ekonomi manusia. Fungsi ganda berupa hidrologi, pencagaran
sumberdaya genetis (plasma nutfah), efek iklim mikro, sosial, dan produksi.
Elemen-elemen iklim utama yang sangat
mempengaruhi kehidupan adalah cahaya matahari, suhu udara, angin dan kelembaban. Interaksi dari keempat
elemen iklim dapat memberikan kenyamanan,
kepanasan, kedinginan atau biasa. Pepohonan, semak-belukar, dan
rerumputan dapat merubah suhu kota. Daun-daun dapat mengintersepsi,
refleksikan, mengabsorbsi dan mentransmisikan sinar matahari. Efektifitasnya
tergantung kepada misalnya spesis yang rindang, banyak daun, banyak cabang
maupun ranting. Setiap spesis
mempunyai bentuk karakteristik, warna, tekstur dan ukuran.
Vegetasi dapat digunakan sebagai penghubung serta membentuk ruang, sebagai pembatas,
pengatap dan pelantai dan dapat merubah ruang luas menjadi lebih sempit,
dan memberikan suasana yang sunyi dan nyaman.
Pohon dan semak dapat digunakan untuk menciptakan latar yang unik dalam
proses pembentukan ruang. Pepohonan dapat memberikan kesan ruang tiga dimensi,
menutupi pemandangan yang kurang atau kurang indah.
Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa
masalah lingkungan di perkotaan. Selain merekayasa estetika, mengontrol erosi
dan air tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi kebisingan, mengendalikan air limbah,
mengontrol lalu lintas, dan cahaya yang
menyilaukan, serta mengurangi pantulan cahaya, mengurangi bau. Robinatte
(1972) dalam Grey dan Deneke (1978), mengemukakan berbagai sifat tumbuhan yang
khas dan pengaruh-pengaruhnya dapat menolong memecahkan masalah-masalah teknik
yang berhubungan dengan lingkungan yaitu da-ging daun yang
mengurangi bunyi; ranting-ranting yang bergerak dan bergetar untuk
menyerap dan menutupi bunyi-bunyian. Pubesen atau bulu-bulu daun
dapat menjebak dan menahan partikel-partikel air; stomata daun-daun untuk
mengganti gas-gas. Kumpulan bunga dan dedaunan yang memberikan aroma yang sedap berguna untuk
mengurangi bau busuk. Daun dan ranting-ranting
mampu memperlambat aliran angin, dan curahan hujan. Akar yang menjalar akan menahan erosi tanah baik oleh air hujan maupun oleh
angin. Daun yang tebal berguna untuk menghalangi cahaya. Daun-daun tipis untuk menyaring cahaya serta
ranting-ranting berduri untuk menghalangi
gerak-gerik manusia. Dalam pengembangan lingkungan fungsi lingkungan
diutamakan tanpa mengesampingkan
fungsi-fungsi lainnya. Fungsi menyegarkan udara dengan mengambil CO2
dalam proses fotosintesis dan menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi
makhluk hidup untuk pernafasan. Kriedemann (1977) mengemukakan bahwa
fotosintesis adalah suatu proses mendasar yang sangat penting untuk tanaman
hortikultura, karena 90-95% dari berat basah tanaman merupakan hasil langsung dari aktivitas
fotosintesis. Setiap ada pembangunan di kota, lahan pertanian, kebun
buah-buahan ataulahan bervegetasi menjadi berkurang. Mengingat fungsi
tumbuh-tumbuhan kehadiran vegetasi diperkotaan sebagai ruang terbuka hijau (RTH) harus dipertahankan. Berdasarkan
fungsi utama, RTH dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1.
Pertanian
kota, fungsi utamanya untuk mendapatkan hasil
2.
Taman-taman
kota, fungsi utamanya untuk estetika dan interaksi sosial
3.
Hutan
kota, fungsi utamanya untuk meningkatkan kualitas lingkungan
Hutan
kota sebagai unsur RTH merupakan
subsistem kota, sebuah ekosistem dengan
sistem terbuka. Pengertian hutan kota berbeda dengan pengertian hutan
yang dianut selama ini. Hutan kota
diharapkan dapat menanggulangi
masalah lingkungan di perkotaan, menyerap
hasil negatif yang disebabkan karena aktivitas kota. Aktivitas kota dipacu oleh pertumbuhan penduduk
kota, sedangkan pertumbuhan penduduk kota selalu meningkat setiap tahun.
Hutan kota adalah
komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang
tumbuh di lahan kota atau sekitar kota, berbentuk
jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai)
hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi satwa dan
menimbulkan lingkungan sehat,
nyaman, dan estetis (Zoer'aini Djama Irwan, 1994). Hasil negatif
kota antara lain meningkatnya suhu udara, menurunnya kelembaban, kebisingan,
debu,polutan lainnya dan hilangnya habitat berbagai burung karena hilangnya
berbagai vegetasi dan RTH. Dalam hal ini
diharapkan hutan kota dapat menyerap panas, meredam suara yang bising di kota,
mengurangi debu, memberikan estetika, membentuk habitat untuk berbagai jenis
burung atau satwa lainnya. Hutan kota dapat berfungsi untuk perlindungan dari
pancaran sinar matahari langsung, hujan
yang deras, angin, pemandangan yang jelek, memberikan keindahan sehingga dapat
dijadikan tempat rekreasi, sebagai laboratorium alam untuk pendidikan dan
penelitian. Agar semua fungsi hutan kota tersebut dapat dimaksimalkan
maka perlu dicari dan dikembangkan bentuk dan struktur hutan kota yang
mendukungnya.
Pembangunan hutan kota menyangkut masalah ketersediaan lahan
yang erat sekali kaitannya dengan
masalah tataruang kota. Masalah ketersediaan lahan untuk hutan kota,
serta bagaimana mengefektifkan pemanfaatan lahan yang tersedia merupakan kunci
dalam pembangunan hutan kota. Lahan semakin hari semakin berharga dan semakin
sangat mahal, semakin sedikit untuk hutan kota, sehingga sering terjadi
perebutan kepentingan dalam penggunaan lahan dari berbagai sektor aktivitas
kota. Dalam situasi ini sering lahan yang sudah tersedia untuk hutan kota,
sewaktu-waktu diguna alihkan untuk kepentingan lainnya. Tidak ada jaminan persediaan
lahan untuk hutan kota yang sudah dialokasikan. Keadaan tataruang kota tidak
teratur, disana sini terjadi pembangunan fisik serta pengerasan.
Untuk
mengatasi masalah-masalah yang sudah dikemukakan, dapat saja dilakukan
penataan tataruang kembali, dengan menyediakan ruang untuk hutan kota, tetapi
cara ini sangat sulit dilakukan dan kemungkinan besar tidak mungkin.
Ruang-ruang yang sudah ditata cepat sekali berubah karena masih banyak terdapat
perbedaan persepsi tentang hutan kota baik dari para perancang, pengambil
kebijakan maupun masyarakat, dan masih ada anggapan bahwa penyedian lahan untuk
hutan kota merupakan hal yang kurang bermanfaat. Oleh karena itu harus dicari
bagaimana caranya memaksimalkan fungsi hutan kota yang sudah ada atau lahan
yang di alokasikan bagi hutan kota untuk menyerap atau meminimalkan hasil
negatif aktivitas kota. Kendala dalam pembangunan hutan kota dimaksud adalah:
1.
Lahan
untuk hutan kota semakin berkurang
2.
Lahan
semakin mahal harganya di kota
3.
Adanya
perebutan kepentingan dalam penggunaan lahan di kota
4.
Persepsi
tentang hutan kota belum berkembang, sementara masyarakat masih ada yang
menganggap bahwa pembangunan hutan kota, termasuk hal yang tidak menguntungkan.
Sehubungan dengan kebutuhan lingkungan perkotaan,
hutan kota perlu dibangun dengan cara pengelompokan hutan kota berdasarkan
bentuk dan struktur. Haeruman (1987) mengemukakan bahwa hutan kota juga
terletak jauh di luar batas kota, sepanjang interaksi yang intensif antara
penduduk sebuah kota dengan hutan tersebut berlangsung secara terus menerus.
Sebagai contoh Taman Hutan Raya Ir H. Juanda di Bandung dan Taman Hutan Raya
Dr. Muh. Hatta di Padang, dan di Bengkulu sedang dalam taraf pembangunan.
Ekosistem hutan kota tumbuh secara ekologis sesuai dengan lingkungan perkotaan,
artinya terdiri dari tegakkan yang berlapis-lapis dimana masing-masing
fungsinya meniru hutan alami. Pemeliharaan relatif sedikit, dibandingkan
misalnya lapangan olah raga, taman-taman umum dalam skala luas yang sama.
Secara rinci komposisi tegakan dalam hutan kota perlu dijabarkan secara teknis
dengan pendekatan yang diperlukan sesuai dengan fungsinya antara lain:
biologis, estetis, rekreatif, ekologis, fisis, sosial, sebagai cadangan untuk
pengembangan RTH dalam pembangunan kota jangka panjang. Idealnya sebuah
hutan kota dapat mencapai kondisi
optimum sebagaimana layaknya hutan yang terbentuk karena peristiwa alam. Namun
sesuai dengan nilai-nilai "urbanity" maka ada keterbatasan dalam
pembentukan hutan kota tersebut seirama pula dengan perkembangan kota yang
terjadi serta berbagai aspek kehidupan
yang menyangkut kehidupan penduduk kota. Tanaman yang ada harus merupakan
asosiasi, dimana akan
terdapat saling berinteraksi
dalam mencapai suatu keseimbangan. Hutan kota harus
berinteraksi langsung dengan lingkungannya (tanah dan air tanah). Fakuara et
al. (1987) mengemukakan tentang hutan kota, yaitu ruang terbuka yang ditumbuhi
vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan
sebesar-besarnya kepada penduduk kota
dalam kegunaan proteksi, estetika serta rekreasi dan lainnya. Menurut Grey
& Deneke (1978) hutan kota merupakan kawasan vegetasi berkayu yang luas
serta jarak tanamnya terbuka bagi umum, mudah dijangkau oleh penduduk kota dan
dapat memenuhi fungsi perlindungan dan regulatifnya, seperti kelestarian tanah,
tata air, ameliorasi iklim, penangkal polusi udara, kebisingan dan lain-lain.
Jorgensen (1977 dalam Grey dan Deneke, 1978) seorang yang dianggap pelopor
mengemukakan bahwa hutan kota meliputi lahan minimal ditetapkan 50-100 hektar,
jarak lokasi hutan kota dapat dicapai dengan berjalan kaki dari pusat pemukiman
penduduk padat;jarak sama yang ditempuh dari titik akhir jaringan transportasi
umum atau setara waktu yang diperlukan pejalan kaki apabila ia bersepeda dan
harus terbuka bagi umum.
Pembangunan hutan kota dapat dilaksanakan
dengan meningkatkan penghijauan perkotaan baik kuantitas maupun
kualitas dengan meniru hutan alam
atau ekosistem alam. Grey dan Deneke (1978)
mengemukakan bahwa beberapa kota di Amerika telah banyak menanam
pohon yang berfungsi untuk melindungi kota.
Pepohonan tersebut ditanam berkelompok disepanjang jalan, pada
plaza di sekitar bangunan, ditempat-tempat umum atau tempat pribadi,
tempat bisnis, atau industri. Hutan kota meliputi vegetasi berkayu termasuk
lingkungan tempat tumbuhnya, terdapat mulai dari perkampungan terkecil hingga
kota-kota besar. Bukan hanya pepohonan
akan tetapi juga dihubungkan
dengan tanah yang turut membentuk lingkungan tempat keberadaannya seperti sabuk
hijau, pinggir sungai, tempat-tempat rekreasi dan pinggir jalan. Hutan kota
sering berada di luar batas kota. Jalur hijau, hutan kota, hutan lindung, dan
tanaman urugan tanah, dapat dikatakan sebagai
bagian dari hutan kota. Area ini biasanya untuk umum dan bermanfaat
untuk berbagai macam kegunaan, serta mempunyai nilai luar biasa untuk
lingkungan kota, yaitu sebagai pelindung mata air, tempat rekreasi,
memberikan pemandangan, tempat hiburan,
atau sebagai tempat pembuangan limbah.
Hutan kota terdapat pada seluruh jenis tempat atau kawasan seperti perdagangan, tanah industri, tanah milik atau
di kawasan lainnya. Lokasi hutan kota dapat dirancang sesuai dengan fungsi
hutan kota. Besarnya bobot tiap fungsi lansekap, fungsi pelestarian lingkungan
dan fungsi estetika berbeda-beda tergantung lokasi peruntukan. Jika di lokasi
industri fungsi pelestarian lingkungan lebih dominan kemudian fungsi lansekap
dan fungsi estetika. Dilokasi pemukiman
fungsi estetika lebih dominan kemudian fungsi lansekap dan fungsi pelestarian
lingkungan. Hutan kota penangkar satwa lebih mengutamakan fungsi pelestarian
lingkungan. Begitu pula untuk hutan kota wisata lebih mengutamakan fungsi
estetika. Menurut Grey dan Deneke (1978) dan Wirakusumah (1987) peranan hutan
kota berdasarkan lokasi peruntukan aktivitas kota, dapat dibagi menjadi:
1.
Hutan kota konservasi,
2.
Hutan kota industri,
3.
Hutan kota wilayah pemukiman,
4.
Hutan kota wisata dan
5.
Hutan kota tangkar satwa.
Penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) berkaitan
dengan kualitas lingkungan kota yang dirancang kearah terbentuknya struktur
ekologis dan berfungsi melestarikan lingkungan yang nyaman, sehat, estetis dan
kehadiran satwa liar, berbentuk hutan kota yang memenuhi kaedah lansekap di
perkotaan. Penelitian ini dilakukan di kota Jakarta, dengan studi kasus lokasi
pemukiman yang diartikan sebagai kota
kecil yaitu di Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan. Tujuan penelitian adalah
pengelompokan hutan kota menurut sifat pengaruhnya terhadap kualitas
lingkungan dan untuk
mencari hubungan antara bentuk dan struktur hutan
kota terhadap kualitas lingkungan kota yang berhubungan
dengan suhu, kelembaban, kebisingan dan debu.
Hasil
penelitian itu menunjukkan bahwa bentuk dan struktur hutan kota berbeda
mempunyai peranan yang berbeda pula terhadap penurunan suhu,
kebisingan dan debu serta dapat
meningkatkan kelembaban. Fungsi ini
sangat menentukan dalam pengelompokan
hutan kota sehingga dapat digunakan sebagai penciri dalam pengelompokkannya.
Dalam hal ini hutan kota dikelompokkan berdasarkan kepada:
- Bentuk Hutan Kota. dapat Bentuk hutan kota tergantung kepada bentuk lahan yang tersedia untuk hutan kota.
- Struktur Hutan Kota. Struktur hutan kota adalah komposisi dari jumlah dan keanekaragaman komunitas vegetasi yang menyusun hutan kota
- Bentuk Hutan Kota
Andreson (1975) dalam Grey dan Deneke
(1978) mengemukakan bahwa hutan kota di negara bagian New York terdiri dari barisan
pepohonan di sepanjang jalan, gerombol vegetasi di taman-taman, termasuk jalur
hijau di pinggir kota, menyambung ke daerah hutan di Catskills, Adironacks dan
Allegheny Highlands. Grey & Deneke (1978) mengemukakan bahwa hutan kota
meliputi vegetasi sepanjang jalan, danau, empang, hijau sepanjang sungai,
padang pengembalaan. Kawasan hutan kota
minimum 0,4 ha, jika berbentuk jalur minimum 30 m lebarnya. Hutan kota
meliputi taman-taman, tepi jalan, jalan tol, jalan kereta api, bangunan umum,
lahan-lahan yang terbuka, kawasan padang
rumput, kawasan luar kota, kawasan pemukiman, kawasan perdagangan dan kawasan
industri. Booth (1979) mengemukakan bahwa jalur hijau dengan lebar 183m dapat mengurangi pencemaran udara sampai 75%.
Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa bentuk hutan
kota dapat dikelompokan menjadi tiga bentuk:
a.
Berbentuk
Bergerombol atau menumpuk adalah hutan kota dengan komunitas vegetasinya
terkonsentrasi pada suatu areal dengan
jumlah vegetasinya minimal 100 pohon denganjarak tanam
rapat tidak beraturan;
b. Berbentuk menyebar
yaitu hutan kota yang tidak mempunyai pola tertentu, dengan komunitas
vegetasinya tumbuh menyebar dan terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau
gerombol-gerombol kecil. Misalnya pekarangan, halaman kantor, halaman sekolah
atau halaman hotel dan di tanah-tanah sisa
dan lainnya.
c. Berbentuk jalur
yaitu komunitas vegetasinya tumbuh pada lahan yang berbentuk jalur lurus atau
melengkung, mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lainnya.
Struktur
Hutan Kota.
Struktur hutan kota ditentukan oleh
keane-karagaman vegetasi yang ditanam, sehingga terbangun hutan kota yang berlapis-lapis dan berstrata
baik secara vertikal maupun horizontal yang meniru hutan alam. Struktur hutan kota
yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan yang menyusun hutan kota. Dapat diklasifikasi
menjadi hutan kota yang:
a. Berstrata dua
yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan hutan kota hanya terdiri dari pepohonan dan rumput atau penutup tanah lainnya;
b. Berstrata banyak
yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan hutan kota selain terdiri dari pepohonan dan
rumput juga terdapat semak, terna, liana, epifit, ditumbuhi banyak anakan dan
penutup tanah, jarak tanam rapat tidak beraturan, dengan strata dan komposisi
mengarah meniru komunitas tumbuh-tumbuhan hutan alam. Struktur hutan kota yang
berstrata banyak terbukti dalam penelitian Zoer’aini Djamal Irwan (1994) paling
efektif menanggulangi masalah lingkungan kota yang berhubungan dengan suhu
udara, kebisingan, debu dan kelembaban udara. Hasil analisis secara
multidimensi dari lima jenis hutan kota, ternyata hutan kota yang berbentuk
menyebar strata banyak paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota di
sekitarnya. Fungsi dan manfaat hutan kota yang berbentuk menyebar ini akan menyebar pula, jika dibandingkan dengan
fungsi dan peranan hutan kota yang berbentuk
bergerombol. Dari hasil penelitian ini jelas terlihat bahwa persepsi
selama ini tentang hutan kota dapat dikembangkan yaitu mengembangkan bentuk dan struktur komunitas tumbuh-tumbuhan
yang menyusunnya. Bentuk dan struktur hutan kota ini merupakan usaha untuk
mengatasi semakin berkurangnya lahan untuk hutan kota, dapat diimbangi
dengan fungsi hutan kota itu. Peningkatan fungsi hutan kota adalah dengan cara
peningkatan struktur yang berlapis-lapis
(strata) yang menyerupai hutan alam. Dalam hal ini disamping berusaha
untuk mendapatkan lahan untuk hutan
kota, juga diusahakan peningkatan struktur komunitas tumbuh-tumbuhan yang
menyusunnya.
Michael
(1986) mengemukakan bahwa aspek-aspek struktur vegetasi secara garis
besar ditentukan oleh bentuk pertumbuhan vegetasi, ukuran, bentuktajuk, fungsi
daun, ukuran dan tekstur daun. Bentuk pertumbuhan vegetasi dapat dibagi menjadi
empat kelompok utama yaitu yang berbentuk pohon adalah tumbuhan berkayu yang
mempunyai satu batang dan bercabang-cabang, mempunyai ketinggian diatas 8 m.
Ketinggian ini yang membedakan pohon dengan semak-semak (shrubs). Semak-semak
mempunyai beberapa batang, dan umumnya mempunyai ketinggian dibawah 8 m. Bentuk yang lain adalah herba yaitu
tumbuhan yang tidak berkayu, dan tegak. Terakhir adalah bryoids yang terdiri
dari seperti lumut, paku-pakuan, cendawan. Ukuran dibagi berdasarkan tinggi
vegetasi. Bentuk dan ukuran daun adalah besar, lebar, menengah, kecil, seperti
jarum, rumput-rumputan dan campuran. Tekstur daun ada keras, papery dan
sukulen. Coverage biasanya sangat beragam, ada tumbuhan yang sangat tinggi
dengan penutupan horisontal dan luas, relatif dapat sebagai penutup, ada
menyambung dan terpisah-pisah. Penutupan tumbuhan merupakan indikasi dari
sistem akar di dalam tanah. Sistem akar sangat penting dan mempunyai pengaruh
kompetisi pada faktor-faktor ekologi.
FUNGSI
HUTAN KOTA.
Fungsi hutan kota sangat tergantung kepada
komposisi dan keanekaragam jenis dari komunitas vegetasi yang
menyusunnya dan kepada tujuan perancangannya. Secara garis besar fungsi
hutan kota dapat dikelompokkan menjadi 3 fungsi (pada Gambar 1) sebagai
berikut:
1.
Fungsi lansekap.
a.
Fungsi lansekap meliputi fungsi fisik.
Vegetasi berfungsi antara lain untuk perlin-dungan terhadap kondisi
fisik alami sekitarnya terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang
bagus dan terhadap bau. Pengguna-an dalam unsur struktur ini ditentukan oleh
u-kuran, bentuk kerapatan vegetasi. Kegunaan arsitektural vegetasi sangat
penting di dalam tataruang luar. Dengan tekstur vegetasi kasar sedang, dan
halus dapat digunakan pada ruang luar untuk menghubungkan bangunan dengan tapak
disekitarnya, menyatukan dan menyelaraskan lingkungan sekitar yang seolah-olah
tidak beraturan, memperkuat titik-titik dan area-area tertentu dalam lansekap,
mengurangi kekakuan unsur-unsur arsitektural yang keras dan membingkai
pemandangan yang terpilih. Dalam hal ini vegetasi berfungsi sebagai pelengkap
pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai.
b. Fungsi lansekap
yang meliputi fungsi sosial.
Penataan vegetasi dalam hutan kota yang
baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat produktif. Di
dalam hutan kota orang seperti panyair atau seniman lainnya dapat merenung,
menghayal sehingga dapat merupakan sumber inspirasi dan ilham. Hutan kota
dengan aneka vegetasi mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga dapat sebagai laboratorium hidup untuk sarana
pendidikan dan penelitian. Fungsi kesehatan (hygiene), misalnya untuk terapi mata dan mental serta
fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya. Rekreasi erat
kaitannya dengan estetika dan merupakan bagian dari hidupnya manusia, yaitu
berbagai kegiatan untuk mencari kesegaran mental dalam rangka memperbaiki semangat seseorang,
yang menimbulkan inisiatif dan perspektif kehidupan sehingga siap kembali untuk
bekerja keras (Douglass, 1970). Fungsi sosial politik ekonomi misalnya untuk
persahabatan antar negara. Hutan kota dapat memberikan hasil
tambahan secara ekonomi untuk kesejahteraan penduduk seperti
buah-buahan, obat-obatan sebagai warung
hidup dan apotik hidup.
2.
Fungsi Pelestarian Lingkungan (ekologi).
Dalam
pengembangan dan pengendalian
kualitas lingkungan fungsi lingkungan diutamakan tanpa mengesampingkan
fungsi-fungsi lainnya. Fungsi lingkungan ini antara lain adalah:
a. Menyegarkan udara atau sebagai
"paru-paru kota". Fungsi menyegarkan udara yaitu tumbuh-tumbuhan
dalam proses fotosintesis akan mengambil CO2 dari udara dan air dari dalam
tanah. Proses ini menghasilkan O2 dan
untuk makanan sebagai sumber energi yang
sangat diperlukan bagi makhluk hidup
untuk hidup dan berkembang. Kriedemann
(1977) mengemukakan bahwa
fotosintesis adalah suatu proses mendasar yang sangat penting untuk tanaman
hortikultura, karena 90-95% dari berat basah tanaman merupakan hasil langsung
dari aktivitas fotosintesis:
sinar matahari
6
CO2 + 6 H2O -------------> C6H12O6 + 6 O2
khlorofil
enzim
Fotosintesis
adalah suatu proses metabolisme tumbuh-tumbuhan berhijau daun yang sangat
dinamis, tanggap terhadap panjangnya
hari dan faktor-faktor iklim. Kemampuan melepaskan O2 tergantung
kepada tumbuhan hijau yang mempunyai chlorofil tinggi, dan laju
fotosintesis tinggi dengan titik kompensasi cahaya rendah. Monteith (1990) mengemukakan bahwa
fotosintesis pada tanaman yang tumbuh normal akan menggunakan semua CO2 pada
lapisan 30 meter diatas tanaman dalam
sehari. Odum (1971) menunjukkan bahwa produktivitas daripada efisiensi
fotosintesis menjadi penting untuk kelangsungan hidup populasi tumbuhan. Menurut Grey and Deneke (1976) setiap tahun
vegetasi di bumi ini mempersenyawakan sekitar 150.000 juta ton CO2 dan 25.000 juta ton hidrogen dengan
membebaskan 400.000 juta ton O2 ke atmosfir, serta menghasilkan 450.000 juta
ton zat-zat organik. Setiap jam 1 ha daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuifalen
dengan CO2 yang dihembuskan oleh nafas manusia sekitar 200 orang dalam waktu yang sama sebagai hasil
pernafasannya. O2 sebagai hasil
fotosintesis sebagian
dimanfaatkan kembali oleh
tumbuhan untuk berjalannya proses respirasi (pernafasan). Pada proses respirasi justru memerlukan O2
dan menghasilkan CO2. Seperti yang dikemukakan oleh Soemarwoto (1991) bahwa
pada fase pertumbuhan, tumbuhan atau sekumpulan tumbuhan seperti hutan, laju
fotosintesis (P) lebih besar daripada proses pernafasan (R), sehingga P/R = >1.
Pada fase ini laju pengikatan CO2 lebih besar daripada laju emisi CO2,
sehingga hutan mengurangi kadar CO2
dalam atmosfir. Akan tetapi makin besar hutan, semakin banyak daun yang ternaungi dan semakin besar
pula proporsi bagian tumbuhan yang
kurang mengandung klorofil seperti
batang dan akar. Dengan demikian nisbah
P/R semakin mengecil, akhirnya akan mendekati 1. Bila tumbuhan atau hutan itu mencapai
keseimbangan dinamik, maka laju pengikatan CO2 sama dengan laju pelepasan CO2.
Begitu pula tumbuhan yang muda biasanya P/R>1, semakin tua tumbuhan P/R semakin mendekati 1.
b. Menurunkan Suhu
Kota dan meningkatkan kelembaban. Kelembaban
udara menunjukkan kandungan uap
air di atmorfir pada suatu saat dan waktu tertentu. Kelembaban udara berhubungan dengan kesetimbangan energi dan
merupakan ukuran banyaknya energi radiasi
berupa panas laten yang dipakai untuk menguapkan air yang terdapat
dipermukaan yang menerima radiasi. Makin banyak air yang diuapkan, makin banyak
energi yang berbentuk panas laten dan makin lembab udaranya. Uap air di
atmosfir bertindak sebagai pengatur panas (suhu
udara) karena sifatnya dapat menyerap energi radiasi matahari
gelombang pendek maupun gelombang
panjang. Monteith dan Unsworth
(1990) mengemukakan bahwa
kelembaban nisbi adalah perbandingan tekanan uap air aktual terhadap
tekanan uap jenuh pada suhu yang sama.
Evaporasi dipengaruhi oleh suhu dan
merupakan pertukaran antara panas laten dan panas terasa (sensibel). Tanaman
yang tinggi laju eva-potranspirasinya lebih besar. Kehilangan panas karena
terjadinya evaporasi akan menyebabkan suhu disekitar tanaman menjadi lebih
sejuk. Menurut Grey dan Deneke (1976) pepohonan dengan vegetasi lainnya dapat
memperbaiki suhu kota melalui evapotranspirasi. Sebatang pohon yang terisolir
akan menguapkan air sekitar 400 liter/hari, jika air tanah cukup tersedia
(Kramer dan Kozlowski, 1970) dan (Federer, 1970). Untuk mengurangi pengaruh
berkurangnya kelembaban udara perlu diadakan penghijauan dengan penghutanan,
taman-taman, air mancur, RTH, situ-situ
dan rawa. Kota yang berkembang memakai energi lebih banyak, menyebabkan udara
bertambah panas yang memerlukan
kelembaban udara dari pepohonan
atau hutan kota. Hasil penelitian Sani (1986) menunjukkan ada perbedaan
suhu di luar dan di dalam taman kota
kecil sebesar 4,5°C di Kualalumpur. Menurut Zoer'aini Djamal Irwan (1994) hutan
kota dapat menurunkan suhu kota
sekitarnya sebesar 3,46% di siang hari pada permulaan musim hujan.
Sedangkan hutan kota menaikkan kelembaban sebesar 0,81% di siang hari pada
permulaan musim hujan. Hutan kota
berstrata banyak ternyata lebih banyak meningkatkan kelembaban yaitu sekitar
3,48% dibandingkan dengan yang berstrata dua.
Struktur vegetasi berstrata banyak
ternyata paling efektif menanggulangi
masalah lingkungan kota (suhu udara, kebisingan, debu dan kelembaban
udara). Hasil analisis secara multidimensi dari lima jenis hutan kota,
ter-nyata hutan kota yang berbentuk menyebar strata banyak paling efektif
menanggulangi masalah lingkungan kota di sekitarnya. Waktu waktu pengukuran tertentu menunjukkan bahwa hutan kota berpengaruh
positif dan nyata terhadap suhu dan kelembaban terutama pada yang berstrata
banyak. Trend menunjukkan bahwa
semakin tinggi suhu dan semakin rendah kelembaban semakin besar
pengaruh hutan kota. Dalam hal ini
hutan kota mempunyai pengaruh
besar pada daerah-daerah yang suhunya tinggi.
Hutan
kota dapat memberikan kenyamanan
dan kenikmatan kepada penduduk kota jika kita dapat mengembangkan dan membangun
hutan kota yang berstruktur, dengan keanekaragam jenis dan jumlah
yang banyak serta ditata dengan baik. Tingkat kenyamanan seseorang
selain tergantung kepada antara lain usia, kebudayaan, sangat ditentukan oleh
suhu dan kelembaban (iklim mikro). Kenyamanan dapat di desain pada batas-batas
tertentu dengan menggunakan vegetasi dan memodifikasi suhu, angin dan
kelembaban. Diharapkan hutan kota dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang
dikehendaki, karena hutan kota dapat memodifikasi iklim mikro. Penilaian rasa
nyaman disekitar hutan kota dapat dihitung dari suhu udara dan kelembaban
udara. Hutan kota yang berstrata banyak
memberikan lingkungan sekitarnya relatif lebih nyaman daripada yang berstrata
dua. Demikian pula di dalam hutan kota
lingkungannya lebih nyaman
dibandingkan dengan di luar hutan kota.
c. Sebagai Ruang Hidup Satwa. Vegetasi atau
tumbuhan selain sebagai produsen
pertama dalam ekosistem juga dapat menciptakan ruang hidup (habitat)
bagi makhluk hidup lainnya. Sebagai
contoh burung. Burung sebagai komponen ekosistem mempunyai peranan penting,
diantaranya adalah mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga dan
pemencaran biji. Kehadiran burung di
kota mempunyai arti penting sebagai penyerbuk bunga dan pemencar biji,
sangat penting artinya dalam membantu proses regenerasi hutan. Hampir pada
setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung, sehingga burung mudah
dijumpai di beberapa tempat. Dengan kondisi tersebut diduga burung dapat
dijadikan sebagai indikator ingkungan, karena apabila terjadi pencemaran
lingkungan, burung merupakan komponen alam terdekat yang terkena pencemaran.
Burung berperanan dalam rekreasi alam, ini terbukti dengan adanya taman burung
yang selalu dikunjungi orang, untuk menikmati bunyi, kecantikan ataupun
kecakapan burung. Burung mempunyai nilai pendidikan dan penelitian. Keindahan
burung dari segala yang dimilikinya akan memberikan suatu kenikmatan
tersendiri. Kebiasaan burung-burung beranekaragam, ada burung yang mempunyai
kebiasaan berada mulai dari tajuk sampai kebawah tajuk. Ini menunjukkan bahwa
bila hutan kota mempunyai komposisi banyak jenis, berlapis-lapis dan berstrata
akan memikat banyak burung. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994)
menunjukkan bahwa burung lebih banyak dijumpai baik jenis maupun jumlahnya pada
hutan kota yang ditanami dengan tanaman produktif (berbunga, berbuah, berbiji)
pada struktur hutan kota yang berstrata banyak. Kehadiran burung pada
hutan kota yang berstara banyak selain karena jumlah vegetasi
yang beranekaragam, juga pohonnya adalah jenis buah-buahan (tanaman produktif)
Tanaman produktif dalam hal ini adalah tanaman
yang menghasilkan bunga, buah, biji, sehingga memberikan kesempatan
lebih besar kepada burung (herbivor) yang
menyukainya untuk datang, mencari makan, bercengkrama atau bersarang.
Kehadiran burung juga dapat terjadi karena adanya informasi dari hutan kota
terhadap burung misalnya bentuk tajuk, aroma, dahan, ranting maupun estetika
dari vegetasi yang ada.
d.
Penyanggah dan Perlindungan Permukaan Tanah dari Erosi. Fungsi hutan kota
lainnya sebagai penyanggah dan perlindungan permukaan tanah dari air hujan dan
angin juga untuk penyediaan air tanah dan pencegahan erosi.
e.
Pengendalian dan Mengurangi Polusi Udara dan Limbah. Fungsi pengendalian
atau mengurangi polusi udara dan
limbah, menyaring debu. Debu atau partikulat terdiri dari beberapa
komponen zat pencemar.
Dalam sebutir debu terdapat unsur-unsur
seperti garam sulfat,sulfuroksida, timah hitam, asbestos, oksida besi,silika,
jelaga dan unsur kimia lainnya. Pencemaran
debu secara langsung dapat menyebabkan kerusakan pada organ pernafasan dan
kulit. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa hutan
kota dapat menurunkan kadar debu sebesar 46,13% di siang hari pada permulaan
musim hujan. Hutan kota yang
berstrata banyak lebih efektif menurunkan kadar debu yaitu sebesar
53,56%, dibandingkan dengan hutan kota
yang berstrata dua menurunkan kadar debu sebesar 42,89%. Berbagai hasil
penelitian lainnya menunjukkan bahwa vegetasi dapat mengakumulasi berbagai
jenis polutan. Penelitian Wargasasmita et
al. (1991) menunjukkan bahwa
tumbuhan dapat mengakumulasi Pb pada daun dan kulit batangnya. Terbukti dari
hasil penelitian itu bahwa kandungan Pb lebih banyak pada tanaman di tepi jalan
dibandingkan dengan kandungan Pb pada
tumbuhan sejenis, di lokasi yang jauh dari pinggir jalan. Jahja Fakuara et al.,
menemukan dalam penelitiannya bahwa Cassia siamea (johar), Pithecellobium dulce
(asam landi), dan Swietenia macrophylla
(mahoni) mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyerap Pb.
e.
Peredaman Kebisingan.
Kebisingan adalah suara yang berlebihan, tidak diinginkan dan sering disebut
"polusi tak terlihat" yang menyebabkan efek fisik dan psikologis.
Efek fisik berhubungan dengan transmisi gelombang suara melalui udara, efek
psikologis berhubungan dengan respon manusia terhadap suara. Telinga manusia
dapat mendeteksi frekuensi suara berkisar antara 20 - 20.000 CPS. Intensitas
suara yang dapat didengar oleh telinga manusia antara 0 - 120 desibel. Hasil
penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa hutan kota dapat
menurunkan kebisingan sebesar 18,94% pada siang hari dipermulaan musim hujan.
Hutan kota yang berstrata banyak lebih
efektif menurunkan kebisingan yaitu sebesar 25,34% dibandingkan dengan hutan
kota berstrata dua dapat menurunkan kebisingan sebesar 14,58%
Seberapa jauh tingkat kebisingan dapat
dikontrol oleh vegetasi tergantung kepada jenis spesis, tinggi tumbuhan,
kerapatan, dan jarak tumbuh; faktor iklim yaitu angin, kecepatan, suhu dan
kelembaban; properti dari suara yaitu
tipe, asal, tingkat desibel, dan intensitas suara. Gelombang suara diabsorbsi oleh daun-daun, cabang-cabang,
ranting-ranting dari pohon dan semak. Telah dipostulasikan bahwa bagian tanaman
yang paling efektif untuk absorbsi suara adalah bagian yang memiliki daun
tebal, berdaging dengan banyak petiole. Kombinasi ini memberikan tingkat
fleksibilitas dan vibrasi tertinggi (Robinette 1972, dalam Grey dan Deneke
1978). Suara juga didefleksi dan direfraksi oleh cabang yang lebih besar dan
batang pohon. Diduga hutan dapat
mereduksi suara pada tingkat 7dB setiap 30 m dengan jarak dan frekuensi pada
sekitar 1000 CPS (Embleton, 1963 dalam Grey dan Deneke 1978). Hasil penelitian Bianpoen et al.(1988)
menunjukkan bahwa kadar debu, kebisingan maupun suhu di dalam taman lebih
rendah.
f. Tempat
Pelestarian Plasma nutfah dan bioindikator. Hutan kota juga berfungsi
sebagai tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator dari timbulnya
masalah lingkungan seperti hujan asam.
Karena tumbuhan tertentu akan memberikan reaksi tertentu akan perubahan
lingkungan yang terjadi disekitarnya. Plasma nutfah sangat diperlukan dan
mempunyai nilai yang sangat tinggi dan diperlukan untuk kehidupan. Masih banyak jenis vegetasi yang belum
dikenal, terutama jenis-jenis liar. Jenis-jenis liar dimaksud diperlukan
terutama dalam dunia kesehatan, sebagai bahan baku untuk obat-obatan. Di dunia
pertanian sangat berguna jika jenis liar tersebut di kawinkan dengan jenis yang
sudah dikenal dalam rangka mencari bibit
unggul. Hutan kota merupakan habitat bagi satwa, seperti burung akan memakan
biji-bijian, kemudian burung-burung itu akan berterbangan kesana kemari dan sekaligus
akan turut menyebar luaskan biji-bijian tadi akan tumbuh. Begitu pula angin
akan membantu penyebaran spora, biji-bijian dan lainnya dari berbagai jenis
spesis vegetasi di hutan kota. Diharapkan dalam waktu tertentu akan bermunculan
jenis-jenis yang yang sudah dikenal ataupun yang belum dikenal.
g.
Menyuburkan Tanah.
Sisa-sisa tumbuhan akan dibusukkan oleh mikroorganisma dan akhirnya terurai
menjadi humus atau materi yang merupakan sumber hara mineral bagi tumbuhan.
3.
Fungsi Estetika.
Karakteristik visual atau estetika erat kaitannya dengan
rekreasi. Ukuran, bentuk, warna dan tekstur tanaman serta unsur komposisi dan
hubungannya dengan lingkungan sekitarnya, merupakan faktor yang mempengaruhi
kualitas estetika. Kualitas visual vegetasi sangat penting, karena tanggapan
seseorang merupakan reaksi dari suatu penampakan. Hutan selain memberikan hasil
utama dan sebagai sumber air, juga merupakan sarana untuk berekreasi. Rekreasi
sudah merupakan bagian dari hidupnya manusia. Berbagai kegiatan untuk mencari
kesegaran mental sesorang disebut rekreasi. Rekreasi yang bermanfaat dan
menyenangkan misalnya suatu permainan, seperti teka teki silang, sebagai
selingan pada saat istirahat setelah lelah bekerja. Banyak sekali variasinya
rekreasi, namun hasilnya sama saja. Yaitu untuk mengembalikan semangat Rekreasi
dapat memperbaiki semangat seseorang, menimbulkan inisiatif dan perspektif
kehidupan; sehingga siap kembali untuk bekerja keras (Douglass, 1970).
Faktor-faktor yang mempengaruhi rekreasi ruang luar adalah: penduduk (jumlah
penduduk, tempat tinggalnya, umur, pendidikan) ;uang; waktu; komunikasi;dan
persediaan (yang tercapai, yang sesuai). Tipe area rekreasi antara lain: Hutan;
Taman; Camping; Marina; Hutan Kota.
Suatu
penataan vegetasi dapat berfungsi dengan baik misalnya sebagai pembentuk
ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah namun apabila
visualnya tidak menarik, hal ini akan mengganggu pandangan. Penataan tanaman
yang berhasil adalah apabila vegetasi itu berfungsi, akan tetapi juga harus menarik. Vegetasi dapat memberikan
keindahan dari garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada
dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma.
Pohon dan semak sebagai bingkai pemandangan. Estetika dapat dilihat dari
penampilan vegetasi dalam hutan kota secara individu maupun dalam
bentuk asosiasi. Vegetasi dengan gerakannya dapat memberikan suara yang
memberikan suasana alamiah. Dengan terdapatnya unsur-unsur penghijauan yang di
rencanakan secara baik dan menyeluruh akan
menambah keindahan kota. Booth (1979) dan Robinette (1976) mengemukakan
bahwa fisiognomi vegetasi dapat digunakan sebagai aksen dan penghubung visual, yang dipengaruhi
oleh ukuran, bentuk, warna dan tekstur. Vegetasi memberikan kesan alami
lingkungan, khususnya lingkungan perkotaan, dan memberikan kesegaran visual
terhadap lingkungan yang serba keras.
Vegetasi tidak hanya memberikan kesan lembut terhadap lingkungan yang keras,
akan tetapi dengan ketidak teraturannya akan membuat lingkungan yang harmonis.
Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan menunjukkan bahwa penilaian estetika terhadap dua jenis
pohon dominan yang tumbuh dalam masing-masing hutan kota, digabungkan dengan
penilaian asosiasi vegetasi hutan kota secara
keseluruhan diperoleh hasil bahwa hutan kota yang berstrata banyak
mempunyai nilai estetika lebih
tinggi, daripada hutan kota berstrata dua.
EKOLOGI
BASIS PEMBANGUNAN HUTAN KOTA
Semua
yang telah diuraikan tadi dasar utamanya adalah ekologi. Manusia telah
tertarik dengan ekologi sejak awal
sejarahnya. Masyara-kat primitif untuk hidupnya harus mengenal lingkungannya
terlebih dahulu, yaitu mengenai tenaga-tenaga alam, tumbuh-tumbuhan serta
binatang disekitarnya. Ekologi adalah ilmu yang mempelajari pangaruh
faktor lingkungan terhadap jasad hidup atau suatu ilmu yang mencoba mempelajari
hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungannya dimana mereka hidup,
bagaimana kehidupannya dan mengapa mereka ada disitu. Makhluk hidup terdiri
dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sedangkan lingkungan adalah sejumlah
unsur-unsur dan kekuatan-kekuatan di
luar organisma yang mempengaruhi kehidupan organisma dimaksud. Ekologi berasal dari bahasa Yunani (oikos = rumah
atau tempat hidup). Secara harafiah ekologi adalah pengkajian hubungan
organisma-organisma atau kelompok organisma terhadap lingkungannya. Ekologi
hanya mempelajari apa yang ada dan apa yang terjadi dialam. Ekologi mutakhir
adalah suatu studi yang mempelajari struktur" dan fungsi" ekosistem
atau alam dimana manusia adalah bagian dari alam. Struktur disini menunjukkan
suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk
kerapatan/kepadatan, biomas, penyebaran potensi unsusr-unsur hara, energi,
faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan keadaan sis-tem tersebut. Sedangkan fungsinya menggambarkan
hubungan sebab akibat yang terjadi dalam sistem. Jadi pokok utama ekologi
adalah mencari pengertian bagaimana fungsi organisma di alam. Pada dasarnya ekologi
adalah ilmu dasar yang tidak mempraktekkan sesuatu. Ekologi ada-lah ilmu tempat
mempertanyakan dan menyelidik. Ekologi berkaitan dengan berbagai ilmu
pengetahuan yang relevan dengan kehidupan (pera-daban) menusia. Seorang yang
belajar ekologi sebenarnya bertanya tentang berbagai hal sebagai berikut:
bagaimana alam bekerja; bagaimana suatu spesis beradaptasi dalam habitatnya;
apa yang mereka perlukan dari habitatnya itu untuk dapat dimanfaatkan guna
melangsungkan kehi-dupan, bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya akan unsur
hara (materi) dan energi; bagaimana mereka berinteraksi dengan spesis lainnya;
bagaimana individu-individu dalam spesis
itu diatur dan berfungsi sebagai populasi.
Kalau
direnungkan, kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi (IPTEK) dapat dikatakan merupakan pedang bermata dua yang
berarti dapat digunakan untuk memahami keseluruhan manusia dan alam atau dapat
pula untuk menghancurkanya. Manusia dengan kelebihannya yang mempunyai akal dan
pikiran dalam kemajuan teknologi merasa makhluk yang paling
"berkuasa" dialam ini. Penemuan-penemuan yang pada mulanya bertujuan
untuk kesejahteraan manusia dapat menjadi bumerang terhadap hidupnya bila
prinsip-prinsip ekologi diabaikan. Untuk hidup dan hidup
berkelanjutan manusia harus belajar memahami lingkungannya dan pandai mengatur pemakaian sumber-sumber daya
alam dengan cara-cara yang dapat dipertanggung jawabkan demi pengamanan dan
kelestarian alam ini. Setiap makhluk hidup yang sehat selalu be-rada dalam keseimbangan, walaupun setiap saat
mengalami perubahan. Dengan cara yang sama seluruh dunia kehidupan pada setiap
saat menuju keseimbangan. Setiap kehidupan selalu berubah baik dalam jangka
pendek, maupun dalam jangka panjang. Dalam ekologi semua itu harus dipelajari.
Yaitu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekologi
pada dewasa ini telah menjadi "bintang" diantara cabang ilmu
pengetahuan yang selama ini hanya
menjadi penunjang. Prinsip-prinsip ekologi dapat menerangkan dan mengilhami kita dalam mencari jalan untuk
mencapai kehidupan yang lebih layak. Pada dewasa ini sangat peka dengan masalah
lingkungan dalam mengadakan dan memelihara mutu peradaban manusia maka ekologi
merupakan cabang ilmu yang mendasarinya dan yang selalu berkaitan dengan
kehidupan sehari-hari.
Untuk
mengerti hubungan antara organisma dan lingkungan, semua bidang ilmu
yang dapat menerangkan tentang komponen-komponen itu sangat diperlukan. Ekologi mempunyai ruang
lingkup yang sangat luas. Makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan fisik
(energi dan mineral) pada setiap tingkat menghasilkan sistem-sistem fungsional
yang khas, terdiri dari komponen-komponen yang secara teratur berinteraksi dan
saling ketergantungan serta membentuk satu kesatuan secara keseluruhan. Didalam
ekologi istilah populasi dinyatakan sebagai golongan-golongan individu-individu dari setiap spesis
organisma. Sedangkan komunitas adalah semua populasi-populasi yang menduduki daerah tertentu. Komunitas dan
lingkungan yang tidak hidup berfungsi bersama sebagai sistem ekologi atau
ekosistem. Agar mudah dimengerti hubungan organisma dan lingkungannya, semua
bidang ilmu yang dapat menerangkan setiap makhluk hidup dan lingkungan sangat diperlukan. Penyebaran,
adaptasi dan aspek-aspek fungsi organisma dari komunitas banyak dipelajari
dalam ekologi dan erat hubungannya dengan ilmu-ilmu biologi lainnya seperti
taxonomi, marphologi, physiologi, genetika. Sedangkan klimatologi, ilmu tanah,
geologi, dan fisika memberikan informasi mengenai keadaan lingkungan. Jadi
pengetahuan fisika dan biologi sangat diperlukan bagi seorang ahli ekologi
untuk dapat mengungkapkan hubungan antara lingkungan dan dunia kehidupan.
Odum
(1983) mengemukakan bahwa
jaringan dari komponen-komponen dan proses yang terjadi pada lingkungan
merupakan sebuah sistem. Ekosistem merupakan kesatuan dari suatu komunitas
dengan lingkungannya dimana terjadi hubungan, antar vegetasi, hewan dan segala
macam bentuk materi yang melakukan siklus da-lam sistem, dan energi yang
menjadi sumber ke-kuatan. Untuk mendapatkan energi dan materi yang diperlukan bagi
hidupnya, semua bergantung kepada lingkungan abiotik. Organisma produsen
memerlukan energi, cahaya, oksigen, air dan garam-garam yang semuanya diambil
dari lingkungan abiotik. Energi dan
materi dari konsumen tingkat pertama diteruskan ke konsumen tingkat
kedua dan seterusnya ke konsumen-konsumen lainnya melalui jaring-jaring
makanan. McNaughton and Wolf (1979)
mengemukakan bahwa suatu karakteristik linier tentang aliran energi dan
zat-zat kimia melalui organisme disebut rantai makanan. Energi dan materi dari
konsumen tingkat pertama yaitu vegetasi diteruskan ke
konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke konsumen-konsumen lainnya
melalui jaring-jaring makanan.
Ekosistem
adalah sistem rumah tangga alam, yang terdiri dari berbagai
komponen dan secara alamiah selalu berusaha untuk mencapai
suatu keseimbangan di alam. Jika diamati di sekeliling kita, akan terlihat
bahwa dunia kehidupan itu selalu berubah-ubah. Seperti ada-nya perubahan-perubahan musim. Tumbuh-tumbuhan
sebagai produsen pertama dan ada hewan yang memakan tumbuh-tumbuhan seperti
burung atau tikus dalam hal ini disebut konsumen. Misalnya tikus yang
berkembang biaknya sangat cepat dan anaknya sangat banyak, dalam hal ini
berkembang biak terus tanpa ada pengendalian, maka akan mengakibatkan
tikus-tikus itu akan menghabiskan tumbuh-tumbuhan dan akan kehabisan makanan,
yang berakibat tikus-tikus itu akan mati kelaparaan. Namun hal tersebut tidak
akan terjadi karena adanya kucing atau ular misalnya yang memakan tikus
(disebut predator). Kucing dan ular tersebut akan mengurangi jumlah tikus,
sehingga tumbuhan tidak akan habis, tikus tidak akan kahabisan makanan. Dalam
hal ini telah terjadi suatu keseimbangan. Perkembangan jumlah tikus yang tak
terkendalikan akan membahayakan kehidupan tikus itu sendiri termasuk kehidupan
manusia. Demikian pula untuk hewan lain atau organisma lainnya, termasuk
manusia jika perkembang biakan tak terkendalikan akan membahayakan kehidupannya. Ini adalah
suatu spek dari keseimbangan.
Suatu kajian ekologi penting mengenai
bagaimana komunitas tumbuh dan berkembang. Faktor-faktor yang memegang peranan
penting yaitu ketersediaan bahan pembentuk koloni atau bahan penyerbu secara kebetulan;
pemilihan bahan yang tersedia dalam
lingkungannya dan pengubahsuaian lingkungan oleh tumbuh-tumbuhan. Sejak saat
koloni pertama tiba, dari habitat yang gundul dan mulai tumbuh, mereka mulai
mengubah lingkungan itu, (Ewusie 1980). Watt (1973) dan Haeruman (1992)
mengemukakan bahwa ada lima kelompok sumber alam yang terdiri dari materi,
energi, ruang, waktu dan kanekaragaman. Akhir-akhir ini keanekaragaman hayati menjadi perhatian dunia. Disadari akan pentingnya
keanekaragaman hayati, pada tanggal 6-17
Nopember 1995 telah diselenggarakan konperensi dunia ke dua tentang keanekragaman
hayati. Kemajuan rekayasa genetika menumbuhkan pengertian banyak orang
terhadap perlunya bahan baku utamanya yang beranekaragam.
Ekosistem
memberikan informasi yang banyak sekali, sangat bermanfaat bagi manusia
dan perlu dipelajari agar manusia dapat
melakukan sesuatu yang tepat dalam pengelolaan lingkungan. Interaksi diantara
komponen ekosistem tidak hanya terjadi melalui aliran energi dan siklus materi,
akan tetapi juga melalui pertukaran
informasi. Informasi dalam hal ini dapat dirumuskan sebagai suatu simbol atau
sebagai indikator tentang sesuatu yang terjadi atau yang ada dimasa lalu, baik
masa sekarang maupun untuk masa mendatang pada komponen ekosistem, baik
secara ndividu, maupun secara keseluruhan
pada sistem itu. Atas dasar sistem informasi ini tepat sekali filosofi
masyarakat Minang (Navis, 1986) tentang alam terkembang menjadi guru atau alam
tersebut merupakan laboratorium dalam
kehidupan. Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi, karena
ekosistem meliputi komunitas organisma hidup (biotik) dan lingkungan tidak
hidup (abiotik) dan lingkungan yang saling mempengaruhi, keduanya mempunyai
tujuan untuk memelihara kehidupan di dunia ini secara seimbang. Dialam ini
organisma hidup dan lingkungan tidak hidup berhubungan erat tak terpisahkan dan
saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain yang merupakan suatu sistem.
Interaksi dimaksud senantiasa terkendali menurut suatu dinamika
yang Stabil, untuk mencapai
suatu kesetimbangan optimum, mengikuti setiap perubahan yang dapat ditimbulkan terhadapnya
dalam ukuran batas-batas kesanggupannya. Interaksi terjadi antara:
Komponen-komponen
biotis dengan komponen-komponen abiotis;
Sesama
komponen biotis dan
3. Sesama komponen-komponen abiotis.
Ekosistem
mempunyai keteraturan, berwujud sebagai kemampuan untuk memelihara
sendiri, mengatur sendiri, serta mengadakan keseimbangan kembali yang disebut
dengan homeostasis. Homeostasis merupakan kemampuan ekosistem untuk menahan
berbagai perubahan dalam sistem secara
keseluruhan (Watt 1973). Longman
and Jenik (1974) mengemukakan bahwa ekosistem hutan tropis merupakan sebuah
sistem yang dinamis, adanya saling ketergantungan antara vegetasi dan hewan
dengan berbagai interaksi, ada yang bersaing, bekerjasama dan lainnya. Dibawah
naungan pohon terdapat perkecambahan, anakan, tumbuh-tumbuhan yang merambat,
epifit, lumut menutupi potongan kayu dan kotoran, semut yang memakan atau
mengisap cairan dalam bunga, burung-burung yang menyebarkan benih, binatang
pengerat memakan buah-buahan, herbivora berkeliaran, dan satwa lainnya. Ewusie
(1980) mengemukakan bahwa hutan tropika terkenal dengan perlapisannya. Ini
berarti bahwa populasi campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal
dengan jarak teratur secara tak sinambung. Ricklefs dalam Anwar
(1984) mengemukakan bahwa hutan
tropis mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi, sebagai contoh hutan
Kalimantan di Indonesia menurut Haeruman (1980) mempunyai sekitar 40.000 jenis,
terkaya didunia dengan 4000 jenis pohon
besar yang penting. Dalam 1 ha terdapat
paling sedikit 60 jenis, 320 pohonan
dengan diameter diatas 10 cm.
Vegetasi yang ada dalam hutan ini
tidak menggugurkan daun, kondisinya
sangat bervariasi, ada yang
sedang berbunga, ada yang sedang
berbuah, ada yang dalam
perkecambahan, atau berada dalam tingkatan kehidupan sesuai
dengan sifat atau kelakuan masing-masing jenis vegetasi.
Pohon-pohon dari komunitas hutan hujan yang beranekaragam, tingginya rata-rata
46-55 m adakalanya secara individu dapat mencapai 92 m, dengan bentuk pohon
pada umumnya ramping. Tinggi pohon tidak sama, seringkali terdapat 3 lapis
pohon-pohon, tetapi kadang-kadang hanya
dua lapis. Vegetasi bawah pada hutan hujan terdiri dari semak, terna dan sejumlah
anakan serta kecambah-kecambah dari pohon. Disamping itu hutan hujan memiliki
tanaman memanjat dari pelbagai bentuk dan ukur-an dan efipit yang tumbuh pada
batang dan daun
Dalam ekosistem tersebut terdapat arus
energi yang terlihat pada struktur makanan, kera-gaman biotik dan siklus bahan
atau siklus materi (yakni pertukaran bahan-bahan antara bagian yang hidup dan
tidak hidup). Menurut Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH, 1982) ekosistem
adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan
hidup yang saling mempengaruhi. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan
semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan
perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan
peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya.
Ekosistem seperti halnya dengan komunitas tidak mepunyai batas-batas ruang dan
waktu. Suatu ekosistem diatur dan
dikendalikan secara alamiah dan
mempunyai daya kemampuan yang optimal
dalam keadaan berimbang. Diatas kemampuan tersebut ekosistem tidak lagi
terkendali, yang menimbulkan
perubahan-perubahan lingkungan atau krisis lingkungan yang tidak lagi berada
dalam keadaan lestari bagi kehidupan organisma. Setiap ekosistem memiliki
sifat-sifat yang khas disamping yang umum dan secara bersama-sama dengan ekosistem
lainnya mempunyai peranan terhadap ekosistem keseluruhannya (biosfir). Setiap ekosistem tergantung dan
dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat, waktu dan masing-masing membentuk
basis-basis perbedaan di antara ekosistem itu sendiri sebagai pencerminan
sifat-sifat yang khas. Masing-masing ekosistem juga melibatkan diri antara
ekosistem yang satu dengan yang lainnya, dan saling berinteraksi pula secara
tertentu. Suatu ekosistem sangat rumit. Hubungan antar organisma ada yang
langsung dan ada yang tidak langsung. Dalam beberapa hal hubungannya
sangat jauh. Arus energi menempuh barbagai macam jalan. Untuk mempelajari suatu
ekosis-tem diperlukan pengamatan yang lama dan sukar. Mungkin tidak ada satu
ekosistempun yang dapat dipahami seluruh nya.. Agar hubungan yang terdapat
antar organisma dan lingkungan abiotiknya dalam ekosistem dapat dipahami,
diperlukan penelitian-penelitian yang
seksama. Dengan konsep ekosistem komponen-komponen lingkungan hidup
kita lihat secara terpadu sebagai komponen yang berkaitan dan tergantung
satu sama lain dalam suatu sistem.
Pendekatan ini disebut pendekatan ekosistem atau pendekatan holistik. Didalam
suatu tata ruang yang sempit, berbagai individu akan berdesakan, dimana perlu akan
membentuk suatu struktur yang berlapis-lapis. Yakni ada rumput, ada semak, ada
belukar, ada pohon dan ada pohon yang tinggi sekali memayungi semuanya, didalam
sistem semuanya ini menempati fungsinya
masing-masing. Dan diantara berbagai jenis tumbuhan yang hidup bersama itu ada
interaksi kimiawi (allelopati) antara suatu
individu tumbuhan tertentu dengan tumbuhan lain di sekitarnya. Dalam
pembangunan yang berwawasan lingkungan setiap pembangunan harus dapat menjaga
berfungsinya komponen-komponen lingkungan. Oleh karena itu suatu ekosistem harus
dipertahankan kelestariannya, karena memiliki dampak yang menentukan tingkat
kehidupan manusia maupun organisma lainnya di dunia ini. Energi yang menjadi
penggerak sistem kehidupan pada hampir seluruh makhluk hidup berasal dari
matahari, sedangkan materi untuk membangun
tubuh organisma berasal dari bumi.
PEMBANGUNAN
BERKELANJUTAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
Manusia sebagai satu bagian dari alam merupakan bagian utama
dari lingkungan yang kompleks. Kegiatan-kegiatan seperti
perkembangan penduduk, industri pembangunan jalan-jalan, pemakaian
insektisida, unsur-unsur radio aktif pembuatan pelabuhan udara atau terminal
bus, pembuatan jalan tol, pembangunan kota baru, merupakan beberapa contoh yang
dapat mempercepat proses perubahan lingkungan dari bumi ini. Apalagi bila
kegiatan merambah vegetasi tanpa
mempertimbangkan penggantiannya. Seorang ahli ekologi harus dapat melihat
kedepan yang lebih bersifat pengamanan dan pemeliharaan untuk dapat hidup lebih
baik dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.
Azas-azas ekologi dalam kenyataan sekarang
ini banyak dipakai untuk menganalisis lingkungan hidup manusia, pertambahan
penduduk, peningkatan produksi makanan, penghijauan, erosi, banjir, pelestarian
hewan-hewan dan tumbuhan yang langka, koleksi buah-buahan yang langka dan
pencemaran (polusi) dan lain sebagainya. Pada dasarnya masalah lingkungan itu timbul
karena kegiatan manusia sendiri yang tidak mengindahkan atau tidak mengerti
prinsip-prinsip ekologi. Setelah semua orang mengerti ekologi, dan ekosistem
adalah rumah tangga alam yang merupakan
suatu sistem, terdiri dari berbagai
komponen dan mempunyai tujuan untuk selalu mencapai suatu keseimbangan. Di
dalam ekosistem masing-masing komponen mempunyai fungsi dan peranan dalam mencapai tujuan keseimbangan tadi. Jelas
disini jika salah satu komponennya terganggu, maka keseimbangannya akan
terganggu. Dalam situasi ini, jika gangguan itu sudah melewati daya dukung
dimana sumberdaya yang ada dalam ekosistem itu sudah tidak mampu lagi mendukung
kehidupan manusia dengan sejahtera itu berarti sudah terjadi suatu kerusakan
atau yang lebih dikenal orang
tentang kerusakan lingkungan.
Pembangunan
Indonesia berorintasi kepada pembangunan berkelanjutan
yang berwawasan lingkungan,
yaitu pembangunan dengan penghematan penggunaan
sumberdaya, pertimbangan
jauh kedepan dengan memikirkan kebutuhan
anak cucu yang belum lahir. Dengan kata lain yaitu pembangunan yang
dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan untuk
memenuhi kebutuhan generasi mendatang.
Banyak definisi atau tentang pembangunan
yang berwawasan lingkungan, lebih dari 60
definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli lingkungan dari seluruh dunia.
Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah pembangunan dengan pendekatan
ekosistem. Laju pembangunan ditentukan oleh sumberdaya manusia dan sumberdaya
alam. Antara pembangunan, sumberdaya alam dan sumberdaya manusia terdapat
hubungan timbal balik. Makna pembangunan berekelanjutan berbeda dengan pola
pembangunan yang konvensional dalam berbagai segai sebagai berikut:
Dalam
pembangunan berkelanjutan sumberdaya alam yang digunakan dijaga keutuhan fungsi
ekosistemnya.
Dampak
pembangunan terhadap lingkungan diperhitungkan dengan menerapkan sistem
analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)
sehingga:
1.
dampak
negatif dikendalikan dan dampak positif dikembangkan.
2.
Diperhitungkan
kepentingan generasi masa depan.
3.
Pembangunan
dengan wawasan jangka panjang, karena perubangan lingkungan pada umumnya berlangsung dalam jangka panjang.
4.
Hasil pengelolaan sumber alam harus memperhitungkan
menciutnya sumber alam akibat proses pembangunan. Nilai nilai penciutan
sumberdaya alam tidak masuk
Tujuan pembangunan Indonesia
bukan hanya mengejar kemajuan lahiriah atau mengejar kepuasan bathiniah
saja. Akan tetapi kesinambungan, keselarasan, keserasian antara kedua-duanya
yang menghasilkan manusia seutuhnya.
Seperti yang dikemukakan Emil Salim (1984) lingkungan mempunyai karakter oleh
karena itu hendaklah diciptakan atau dipelihara
agar lingkungan itu memantapkan karakter manusia. Karakter manusia seutuhnya mempunyai ciri-ciri karakter:
1. Keselarasan
hubungan manusia dengan Tuhan, maha pencipta, jadi ciri manusia Indonesia
adalah ciri manusia beragama, berarti tumbuhnya ciri beriman.
2.
Keselarasan
hubungan manusia dengan masyarakat. Ciri manusia Indonesia adalah ciri
bersosial bukan individualis, berarti tumbuh ciri berilmu.
3. Keselarasan
hubungan manusia dengan lingkungan alam,
ini adalah ciri-ciri
berlingkungan berarti berkembang ciri berbudi.
Hasil karya
arsitektur lansekap adalah merubah
lingkungan menjadi lebih
berfungsi seimbang,
indah, dan harus dapat
mempertahankan ciri karakter manusia Indonesia yang meliputi
iman, ilmu dan budi.
PENUTUP
1.
Globalisasi
harus dihadapi, karena tidak mungkin dapat menghindarinya. Dalam era
globalisasi masalahnya bukan hanya sekedar berdaulat dalam bidang politik,
berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang sosial budaya,
akan tetapi kita juga harus unggul dalam persaingan global itu.
2.
Pada
dewasa ini telah lahir perubahan-perubahan sosial yang sangat cepat dan
kompleks, dap mempengaruhi hubungannya
dengan alam dan lingkungan,
lingkungan sosial
budaya dan ekonomi, yang besar sekali pengaruhnya terhadap gaya hidup
masyarakat. Masalah moral dan etika sangat terasa mengalami perubahan,
munculnya kelompok-kelompok yang mendewakan materi.
3.
Pembangunan
dan pengembangan hutan kota terlebih dahulu kita harus membangun dan menyamakan
persepsi tentang Hutan Kota, mulai dari para pengambil keputusan, para pejabat
maupun masyarakat. Bahwa hutan kota tidak sama dengan hutan sesungguhnya yang
kita ketahui selama ini.
4.
Membangun
dan mengembangkan Hutan Kota Paradigma Baru, yaitu Hutan Kota dengan Bentuk dan
Struktur sangat penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan kota. Hutan Kota
Paradigma Baru dapat dibangun dimana saja
Prof
DR Ir Hj. ZOER'AINI DJAMAL IRWAN, MS
Guru
Besar Arsitektur Lansekap Universitas Trisakti
HP.
0811964964
Email:
amboaini@gmail.com dan
zurade@hotmail.com
Jakarta, 2 Maret 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar