Sabtu, 01 Maret 2014



HUTAN KOTA DAN LINGKUNGAN PERKOTAAN
YANG NYAMAN, SEHAT DAN ESTETIS

Oleh:
 ZOER'AINI  DJAMAL  IRWAN





     Sesungguhnya  dalam  penciptaan  langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar dilaut membawa  apa  yang  berguna bagi manusia dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,  lalu dengan  air  itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan dibumi itu segala  jenis  hewan dan  pengisaran  angin  dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapatlah) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkannya (Q:2:164)
    Dan apabila berpaling (dari mukamu), ia berjalan dibumi untuk mengadakan kerusakan padanya dan merusak tanam-tanaman dan binatang ternak, sedang Allah tidak menyukai kebinasaan (Q:2: 205)


MASALAH LINGKUNGAN PERKOTAAN
     Kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang demikian pesat telah menyebabkan peta ekonomi dan politik dunia berubah secara mendasar, membawa tantangan-tantangan baru, masalah-masalah baru dan peluang-peluang baru, serta, harapan-harapan baru. Bumi telah mengalami perubahan lingkungan yang besar seperti tingginya konsentrasi gas-gas rumah kaca karena aktivitas manusia konon menimbulkan perubahan iklim.Tingginya kandungan CFCs di atmosfir yang merusak lapisan ozon. Begitu pula dimana-mana terjadi kerusakan-kerusakan seperti kerusakan hutan, proses pembentukan gurun pasir, kemusnahan berbagai spesis flora dan fauna, erosi, pencemaran udara masalah kebisingan dan menurunnja kualitas udara di perkotaan, suhu udara yang semakin meningkat, tingkat polusi udara semakin tinggi,rusak atau hilangnya berbagai habitat yang diikuti  menurunnya keanekragaman flora dan fauna, hilangnya dan atau memudarnya keindahan dan pemandangan kota, hilangnya berbagai budaya, serta munculnya berbagai macam masalah sosial, pencemaran air maupun pencemaran bumi. Kerusakan lingkungan disebabkan karena pertambahan jumlah penduduk yang tidak terkontrol dan tidak seimbang dengan peningkatan kualitas atau kemampuan dalam mengelola sumberdaya. Arti kata bahwa perkembangan penduduk secara kuantitas perkembangannya tidak berimbang dengan kualitas, dan perimbangan mobilitas penyebarannya. Setiap pembangunan lahan hijau atau vegetasi selalu menjadi korban. Padahal vegetasi mempunyai peranan penting dalam ekosistem. Dalam menghadapi lingkungan global memasuki abad XXI sudah waktunya untu mengkaji kualitas lingkungan dan lansekap perkotaan yang memberikan suasana, nyaman, sehat dan este-tis. Disamping kerusakan lingkungan disebabkan langsung oleh manusia,juga terjadi kerusakan secara alamiah atau peristiwa alam, seperti gempa tektonik, letusan gunung berapi atau angin tofan. Masalah lingkungan ini dapat dihubungkan dengan peringatan Tuhan (Q:30: 41) yang terjemahannya berbunyi:

     Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari(akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)".

      Pembangunan kota baru  yang teduh, nyaman, sejuk dan  indah sebagai kota satelit Jakarta sudah  banyak  seperti Bintaro Jaya, Bumi Serpong Damai, Pantai Indah  Kapuk,  Kelapa  Gading dan lainnya. Ebenezer  Howard sebagai pencetus pertama yaitu paham kota  baru di  Inggris di abad ke-19 menyebutnya sebagai "Garden Cities". Pada tahun 1951 di Jakarta, Kebayoran Baru telah selesai dibangun dengan luas sekitar 730 ha pada waktu itu sebagai kota satelit Jakarta yang dirancang  sejak  tahun  1948 dengan sangat rapih dan teratur. Kebayoran Baru merupakan kota yang hijau, nyaman, sejuk, estetis dan sehat yang diperuntukkan untuk 100.000 orang penduduk. Pada waktu itu penduduk Jakarta hanya berjumlah 1.661.125 orang dan lokasi Kebayoran Baru sewaktu itu dianggap udik (pinggiran kota atau desa), dan transportasi masih kurang. Pembangunan  kota satelit Kebayoran Baru, dilaksanakan dengan ketat sekali sesuai dengan apa yang  telah direncanakan, juga dirancang  dengan pertimbangan proyeksi pertambahan jumlah penduduk. Walaupun perencanaan tersebut masih di jaman "Belanda" namun pelaksanaanya oleh bangsa Indonesia. Dalam hal ini bangsa Indonesia sudah membuktikan bahwa bangsa kita  dulu pada tahun 1951 telah berhasil membangun kota satelit yang nyaman, sehat dan estetis, seimbang, teratur dan tertib yaitu Kebayoran Baru yang cukup luas. Direncanakan pula pada waktu itu jika penduduk terus ber-kembang maka akan dibangun pula kota-kota satelit berikutnya. Betapa nikmatnya jika rencana yang sudah teratur dan baik dapat terlaksana sesuai dengan perencanaan. Namun dalam pelaksanaannya yang terjadi adalah tambal   sulam. Hal ini disebabkan oleh berbagai hal seperti:
1.    Pertambahan penduduk yang cepat sekali.
2.    Perencanaannya yang tidak matang dan selalu ketinggalan.
3.    Persepsi para perancang dan pelaksana belum sama dan belum berkembang
4.    Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan perencanaan.
5.    Kebutuhan yang sangat mendesak.
6. Wawasan diantara para perencana yang belum berwawasan lingkungan, dengan pandangan yang tidak jauh kedepan.
     Pembangunan disana-sini menjadi sulit dikontrol, sehingga terjadilah kerancuan tataruang yang dihadapi  sekarang, baik di kota satelit itu sendiri maupun dikota induknya yaitu Jakarta. Dalam pada  itu pula sabuk hijau yang sudah ada atau yang telah direnca nakan sebagai penghubung  kota satelit dan kota induknya yang teduh, sejuk, nyaman dan estetispun mulai rancu dan hilang atau musnah pula. Perkembangan kota-terus meningkat bahkan banyak taman-taman atau jalur hijau yang telah berubah fungsi
   Dalam  pada  itu (Muhammad Danisworo, 1995) mengemukakan bahwa pada kenyataannya di dalam penerapan penyusunan suatu rencana, kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dirumuskan untuk mencapai sasaran perencanaan pada umumnya hanya melihat sisi pemerintah saja. Sering dilupakan bahwa pembangunan kota tidak hanya oleh pemerintah saja, tetapi juga oleh pihak swasta. Rancangan kota yang ada banyak yang kurang peka terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat sehingga kebijaksanaan kebijaksanaan perencanaan, terutama yang menyangkut peruntukan lahan serta intensitas yang diijinkan banyak yang bersifat "standar", artinya pendekatan  perencanaan  untuk  kota satu dan kota lainnya, atau antara satu bagian kota dengan bagian  kota  lainnya sering  sama. Hal ini sering mengakibatkan rencana kota tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat. Dikatakan pula bahwa kelemahan rencana kota yang ada saat ini dapat dilihat bahwa di dalam pendekatan perencanaan, para  perencana  kota lebih sering melihat kota sebagai "benda fisik" daripada sebagai benda budaya. Padahal di negara kita pada saat ini sedang berlangsung suatu proses transformasi budaya dimana perpindahan tata cara hidup dari suatu kondisi ke kondisi yang lain sedang berlangsung bagi sebagian besar anggota masyara-kat kita. Kota merupakan ajang dimana fenomena ini berlangsung. Oleh karena itu kota sebagai suatu ruang besar dimana terdapat berbagai bentuk kegiatan masyarakatnya mengambil tempat, seharusnya akomodatif terhadap fenomena ini.  Dan fenomena ini berbeda antara satu negara dengan negara lainnya. Begitu  pula kehidupan  kota-kota di Indonesia diwarnai oleh kontradiksi antara  dua  kutub sosial ekonomi maupun budaya yang cukup tajam, yang berdampingan secara damai dan saling membutuhkan. Oleh karena itu kota seharusnya mampu sebagai katalisator untuk membantu dan memperlancar proses transformasi budaya ini. Hal ini kelihatannya masih kurang  mendapat tempat di dalam rencana kota yang ada.

    Penduduk kota berhak mendapat lingkungan yang nyaman, sehat dan estetis. Oleh karena itu mereka  perlu  perlindungan  dari  berbagai masalah lingkungan yang merugikan. Kota Jakarta sebagai contoh, merupakan kota besar berpenduduk hampir 15 juta orang, cendrung menyebar kesegala penjuru kota bahkan ke pinggir kota mencari lingkungan lebih murah, nyaman, sehat dan estetis. Pembangunan fisik  kota Jakarta seperti pemukiman terus berkem-bang, mulai dari gubuk-gubuk liar, bangunan sederhana sampai super canggih, yang dilengkapi pusat-pusat perdagangan, transportasi umum. Ini semua telah menimbulkan masalah dan kekhawatiran, karena semua pembangunan itu telah menyebabkan semakin berkurangnya ruang terbuka hijau (RTH) di perkotaan. Dalam pada itu kecenderungan kota Jakarta menjadi model bagi kota-kota  lainnya  di Indonesia, daerah-daerah akan mencotoh kerancuan tataruang yang telah terjadi tersebut.


PEMBANGUNAN HUTAN KOTA
     Vegetasi dalam ekosistem berperan sebagai produsen  pertama  yang  merubah  energi  surya menjadi energi potensial untuk makhluk lainnya, sebagai sumber hara mineral dan perubah terbesar lingkungan serta meningkatkan kualitas lingkungan. Sejak jaman nenek moyang di Indonesia, pekarangan rumah ditanami dengan berbagai jenis tanaman, mulai dari yang memanjat, semak, rerumputan atau penutup tanah, pepohonan, bunga-bungaan dan hewan ternak. Semua ini maksudnya agar dapat memetik hasilnya setiap saat bila diperlukan, diberikan ke tetangga atau dinikmati kesejukan dan keindahannya sehingga memberikan kenyamanan fisik dan sosial (Zoer'aini Djamal Irwan, 1979). Menurut Soemarwoto (1983) pekarangan mempunyai fungsi ganda yang merupakan integrasi antara fungsi alam dengan fungsi untuk memenuhi kebutuhan sosial, budaya dan ekonomi manusia. Fungsi ganda berupa hidrologi, pencagaran sumberdaya genetis (plasma nutfah), efek iklim mikro, sosial, dan produksi. 
    Elemen-elemen iklim utama yang sangat mempengaruhi kehidupan adalah cahaya matahari, suhu udara,  angin dan kelembaban. Interaksi dari keempat elemen iklim dapat memberikan kenyamanan,  kepanasan,  kedinginan  atau biasa. Pepohonan, semak-belukar, dan rerumputan dapat merubah suhu kota. Daun-daun dapat mengintersepsi, refleksikan, mengabsorbsi dan mentransmisikan sinar matahari. Efektifitasnya tergantung kepada misalnya spesis yang rindang, banyak daun, banyak cabang maupun ranting. Setiap spesis  mempunyai  bentuk  karakteristik, warna, tekstur dan ukuran. Vegetasi dapat digunakan sebagai penghubung serta membentuk ruang, sebagai  pembatas,  pengatap dan pelantai dan dapat merubah ruang luas menjadi lebih sempit, dan memberikan suasana yang sunyi dan nyaman.  Pohon dan semak dapat digunakan untuk menciptakan latar yang unik dalam proses pembentukan ruang. Pepohonan dapat memberikan kesan ruang tiga dimensi, menutupi pemandangan yang kurang atau kurang indah.
    Vegetasi sangat bermanfaat untuk merekayasa masalah lingkungan di perkotaan. Selain merekayasa estetika, mengontrol erosi dan air tanah, mengurangi polusi udara, mengurangi  kebisingan, mengendalikan air limbah, mengontrol lalu lintas, dan  cahaya  yang  menyilaukan, serta mengurangi pantulan cahaya, mengurangi bau. Robinatte (1972) dalam Grey dan Deneke (1978), mengemukakan berbagai sifat tumbuhan yang khas dan pengaruh-pengaruhnya dapat menolong memecahkan masalah-masalah teknik yang berhubungan dengan lingkungan yaitu da-ging  daun yang  mengurangi bunyi; ranting-ranting yang bergerak dan bergetar untuk menyerap dan  menutupi  bunyi-bunyian. Pubesen atau bulu-bulu daun dapat menjebak dan menahan partikel-partikel air; stomata daun-daun untuk mengganti gas-gas. Kumpulan bunga dan dedaunan yang  memberikan aroma yang sedap berguna untuk mengurangi bau busuk. Daun dan ranting-ranting  mampu memperlambat aliran angin, dan curahan hujan.  Akar yang menjalar akan menahan  erosi tanah baik oleh air hujan maupun oleh angin. Daun yang tebal berguna untuk menghalangi cahaya. Daun-daun  tipis untuk menyaring cahaya serta ranting-ranting berduri untuk menghalangi  gerak-gerik manusia. Dalam pengembangan lingkungan fungsi lingkungan diutamakan tanpa mengesampingkan  fungsi-fungsi lainnya. Fungsi menyegarkan udara dengan mengambil CO2 dalam proses fotosintesis dan menghasilkan O2 yang sangat diperlukan bagi makhluk hidup untuk pernafasan. Kriedemann (1977) mengemukakan bahwa fotosintesis adalah suatu proses mendasar yang sangat penting untuk tanaman hortikultura, karena 90-95% dari berat basah tanaman  merupakan hasil langsung dari aktivitas fotosintesis. Setiap ada pembangunan di kota, lahan pertanian, kebun buah-buahan ataulahan bervegetasi menjadi berkurang. Mengingat fungsi tumbuh-tumbuhan kehadiran vegetasi diperkotaan sebagai ruang terbuka  hijau (RTH) harus dipertahankan. Berdasarkan fungsi utama, RTH dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1.    Pertanian kota, fungsi utamanya untuk mendapatkan hasil
2.    Taman-taman kota, fungsi utamanya untuk estetika dan interaksi sosial
3.    Hutan kota, fungsi utamanya untuk meningkatkan kualitas lingkungan
    Hutan  kota  sebagai unsur RTH merupakan subsistem kota, sebuah  ekosistem  dengan  sistem terbuka.  Pengertian  hutan kota berbeda dengan pengertian hutan yang dianut selama  ini.  Hutan kota  diharapkan  dapat menanggulangi masalah lingkungan di perkotaan, menyerap  hasil  negatif yang  disebabkan karena aktivitas kota.  Aktivitas kota dipacu oleh pertumbuhan  penduduk  kota, sedangkan pertumbuhan penduduk kota selalu meningkat setiap tahun. Hutan  kota  adalah  komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya  yang  tumbuh  di  lahan kota atau sekitar kota, berbentuk jalur, menyebar atau bergerombol (menumpuk) dengan struktur meniru (menyerupai) hutan alam, membentuk habitat yang memungkinkan kehidupan bagi  satwa dan  menimbulkan  lingkungan sehat, nyaman, dan estetis (Zoer'aini Djama Irwan, 1994). Hasil negatif kota antara lain meningkatnya suhu udara, menurunnya kelembaban, kebisingan, debu,polutan lainnya dan hilangnya habitat berbagai burung karena hilangnya berbagai  vegetasi dan RTH. Dalam hal ini diharapkan hutan kota dapat menyerap panas, meredam suara yang bising di kota, mengurangi debu, memberikan estetika, membentuk habitat untuk berbagai jenis burung atau satwa lainnya. Hutan kota dapat berfungsi untuk perlindungan dari pancaran sinar matahari langsung,  hujan yang deras, angin, pemandangan yang jelek, memberikan keindahan sehingga dapat dijadikan tempat rekreasi, sebagai laboratorium alam untuk pendidikan  dan  penelitian. Agar semua fungsi hutan kota tersebut dapat dimaksimalkan maka perlu dicari dan dikembangkan bentuk dan struktur hutan kota yang mendukungnya.
    Pembangunan hutan  kota menyangkut masalah ketersediaan lahan yang erat sekali kaitannya dengan  masalah tataruang kota. Masalah ketersediaan lahan untuk hutan kota, serta bagaimana mengefektifkan pemanfaatan lahan yang tersedia merupakan kunci dalam pembangunan hutan kota. Lahan semakin hari semakin berharga dan semakin sangat mahal, semakin sedikit untuk hutan kota, sehingga sering terjadi perebutan kepentingan dalam penggunaan lahan dari berbagai sektor aktivitas kota. Dalam situasi ini sering lahan yang sudah tersedia untuk hutan kota, sewaktu-waktu diguna alihkan untuk kepentingan lainnya. Tidak ada jaminan persediaan lahan untuk hutan kota yang sudah dialokasikan. Keadaan tataruang kota tidak teratur, disana sini terjadi pembangunan fisik serta pengerasan.
    Untuk  mengatasi masalah-masalah yang sudah dikemukakan, dapat saja dilakukan penataan tataruang kembali, dengan menyediakan ruang untuk hutan kota, tetapi cara ini sangat sulit dilakukan dan kemungkinan besar tidak mungkin. Ruang-ruang yang sudah ditata cepat sekali berubah karena masih banyak terdapat perbedaan persepsi tentang hutan kota baik dari para perancang, pengambil kebijakan maupun masyarakat, dan masih ada anggapan bahwa penyedian lahan untuk hutan kota merupakan hal yang kurang bermanfaat. Oleh karena itu harus dicari bagaimana caranya memaksimalkan fungsi hutan kota yang sudah ada atau lahan yang di alokasikan bagi hutan kota untuk menyerap atau meminimalkan hasil negatif aktivitas kota. Kendala dalam pembangunan hutan kota dimaksud adalah:
1.    Lahan untuk hutan kota semakin berkurang
2.    Lahan semakin  mahal harganya di kota
3.    Adanya perebutan kepentingan dalam penggunaan lahan di kota
4.    Persepsi tentang hutan kota belum berkembang, sementara masyarakat masih ada yang menganggap bahwa pembangunan hutan kota, termasuk hal yang tidak menguntungkan.

     Sehubungan dengan kebutuhan lingkungan perkotaan, hutan kota perlu dibangun dengan cara pengelompokan hutan kota berdasarkan bentuk dan struktur. Haeruman (1987) mengemukakan bahwa hutan kota juga terletak jauh di luar batas kota, sepanjang interaksi yang intensif antara penduduk sebuah kota dengan hutan tersebut berlangsung secara terus menerus. Sebagai contoh Taman Hutan Raya Ir H. Juanda di Bandung dan Taman Hutan Raya Dr. Muh. Hatta di Padang, dan di Bengkulu sedang dalam taraf pembangunan. Ekosistem hutan kota tumbuh secara ekologis sesuai dengan lingkungan perkotaan, artinya terdiri dari tegakkan yang berlapis-lapis dimana masing-masing fungsinya meniru hutan alami. Pemeliharaan relatif sedikit, dibandingkan misalnya lapangan olah raga, taman-taman umum dalam skala luas yang sama. Secara rinci komposisi tegakan dalam hutan kota perlu dijabarkan secara teknis dengan pendekatan yang diperlukan sesuai dengan fungsinya antara lain: biologis, estetis, rekreatif, ekologis, fisis, sosial, sebagai cadangan untuk pengembangan RTH dalam pembangunan kota jangka panjang. Idealnya sebuah hutan  kota dapat mencapai kondisi optimum sebagaimana layaknya hutan yang terbentuk karena peristiwa alam. Namun sesuai dengan nilai-nilai "urbanity" maka ada keterbatasan dalam pembentukan hutan kota tersebut seirama pula dengan perkembangan kota yang terjadi serta berbagai aspek  kehidupan yang menyangkut kehidupan penduduk kota. Tanaman yang ada harus  merupakan  asosiasi,  dimana  akan  terdapat  saling  berinteraksi  dalam  mencapai  suatu keseimbangan. Hutan kota harus berinteraksi langsung dengan lingkungannya (tanah dan air tanah). Fakuara et al. (1987) mengemukakan tentang hutan kota, yaitu ruang terbuka yang ditumbuhi vegetasi berkayu di wilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan sebesar-besarnya  kepada penduduk kota dalam kegunaan proteksi, estetika serta rekreasi dan lainnya. Menurut Grey & Deneke (1978) hutan kota merupakan kawasan vegetasi berkayu yang luas serta jarak tanamnya terbuka bagi umum, mudah dijangkau oleh penduduk kota dan dapat memenuhi fungsi perlindungan dan regulatifnya, seperti kelestarian tanah, tata air, ameliorasi iklim, penangkal polusi udara, kebisingan dan lain-lain. Jorgensen (1977 dalam Grey dan Deneke, 1978) seorang yang dianggap pelopor mengemukakan bahwa hutan kota meliputi lahan minimal ditetapkan 50-100 hektar, jarak lokasi hutan kota dapat dicapai dengan berjalan kaki dari pusat pemukiman penduduk padat;jarak sama yang ditempuh dari titik akhir jaringan transportasi umum atau setara waktu yang diperlukan pejalan kaki apabila ia bersepeda dan harus terbuka bagi umum.     
    Pembangunan hutan kota dapat dilaksanakan dengan meningkatkan penghijauan perkotaan baik kuantitas  maupun  kualitas  dengan meniru hutan alam atau ekosistem alam. Grey dan Deneke (1978)  mengemukakan  bahwa  beberapa kota di Amerika telah banyak menanam pohon yang berfungsi untuk melindungi kota.  Pepohonan tersebut ditanam berkelompok disepanjang  jalan, pada  plaza di sekitar bangunan, ditempat-tempat umum atau tempat pribadi, tempat bisnis, atau industri. Hutan kota meliputi vegetasi berkayu termasuk lingkungan tempat tumbuhnya, terdapat mulai dari perkampungan terkecil hingga kota-kota besar. Bukan hanya pepohonan  akan  tetapi juga dihubungkan dengan tanah yang turut membentuk lingkungan tempat keberadaannya seperti sabuk hijau, pinggir sungai, tempat-tempat rekreasi dan pinggir jalan. Hutan kota sering berada di luar batas kota. Jalur hijau, hutan kota, hutan lindung, dan tanaman urugan tanah, dapat dikatakan sebagai  bagian  dari hutan kota.  Area ini biasanya untuk umum dan bermanfaat untuk berbagai macam kegunaan, serta mempunyai nilai luar biasa untuk lingkungan kota, yaitu sebagai pelindung mata air, tempat rekreasi, memberikan  pemandangan, tempat hiburan, atau sebagai tempat pembuangan limbah.  Hutan kota terdapat pada seluruh jenis tempat atau kawasan seperti  perdagangan, tanah industri, tanah milik atau di kawasan lainnya. Lokasi hutan kota dapat dirancang sesuai dengan fungsi hutan kota. Besarnya bobot tiap fungsi lansekap, fungsi pelestarian lingkungan dan fungsi estetika berbeda-beda tergantung lokasi peruntukan. Jika di lokasi industri fungsi pelestarian lingkungan lebih dominan kemudian fungsi lansekap dan fungsi  estetika. Dilokasi pemukiman fungsi estetika lebih dominan kemudian fungsi lansekap dan fungsi pelestarian lingkungan. Hutan kota penangkar satwa lebih mengutamakan fungsi pelestarian lingkungan. Begitu pula untuk hutan kota wisata lebih mengutamakan fungsi estetika. Menurut Grey dan Deneke (1978) dan Wirakusumah (1987) peranan hutan kota berdasarkan lokasi peruntukan aktivitas kota, dapat dibagi menjadi:
1. Hutan  kota konservasi,
2. Hutan  kota  industri,
3. Hutan  kota wilayah pemukiman, 
4. Hutan  kota  wisata dan
5. Hutan  kota tangkar satwa. 
    Penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) berkaitan dengan kualitas lingkungan kota yang dirancang kearah terbentuknya struktur ekologis dan berfungsi melestarikan lingkungan yang nyaman, sehat, estetis dan kehadiran satwa liar, berbentuk hutan kota yang memenuhi kaedah lansekap di perkotaan. Penelitian ini dilakukan di kota Jakarta, dengan studi kasus lokasi pemukiman  yang diartikan sebagai kota kecil yaitu di Kecamatan Pesanggrahan Jakarta Selatan. Tujuan penelitian adalah pengelompokan hutan kota menurut sifat pengaruhnya terhadap  kualitas  lingkungan  dan  untuk  mencari hubungan antara bentuk dan struktur  hutan  kota  terhadap  kualitas lingkungan kota yang berhubungan dengan suhu, kelembaban, kebisingan dan debu.
    Hasil  penelitian itu menunjukkan bahwa bentuk dan struktur hutan kota  berbeda  mempunyai peranan  yang  berbeda pula terhadap penurunan suhu, kebisingan dan debu serta  dapat meningkatkan  kelembaban. Fungsi ini sangat menentukan dalam pengelompokan  hutan kota sehingga dapat  digunakan  sebagai penciri dalam pengelompokkannya. Dalam hal ini hutan kota dikelompokkan berdasarkan kepada:
  1. Bentuk Hutan Kota. dapat Bentuk hutan kota tergantung kepada bentuk lahan yang tersedia untuk  hutan kota. 
  2. Struktur Hutan Kota. Struktur hutan kota adalah komposisi dari jumlah dan keanekaragaman komunitas vegetasi yang menyusun hutan kota

  1. Bentuk Hutan Kota
     Andreson (1975) dalam Grey dan Deneke (1978) mengemukakan bahwa hutan kota di negara bagian New York terdiri dari barisan pepohonan di sepanjang jalan, gerombol vegetasi di taman-taman, termasuk jalur hijau di pinggir kota, menyambung ke daerah hutan di Catskills, Adironacks dan Allegheny Highlands. Grey & Deneke (1978) mengemukakan bahwa hutan kota meliputi vegetasi sepanjang jalan, danau, empang, hijau sepanjang sungai, padang pengembalaan. Kawasan hutan kota  minimum 0,4 ha, jika berbentuk jalur minimum 30 m lebarnya. Hutan kota meliputi taman-taman, tepi jalan, jalan tol, jalan kereta api, bangunan umum, lahan-lahan yang terbuka, kawasan  padang rumput, kawasan luar kota, kawasan pemukiman, kawasan perdagangan dan kawasan industri. Booth (1979) mengemukakan bahwa jalur hijau dengan lebar 183m  dapat mengurangi pencemaran udara sampai 75%. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa bentuk hutan kota dapat dikelompokan menjadi tiga bentuk:
a. Berbentuk Bergerombol atau menumpuk adalah hutan kota dengan komunitas vegetasinya terkonsentrasi pada suatu areal  dengan jumlah vegetasinya minimal 100 pohon denganjarak  tanam  rapat tidak beraturan; 

b. Berbentuk menyebar yaitu hutan kota yang tidak mempunyai pola tertentu, dengan komunitas vegetasinya tumbuh menyebar dan terpencar-pencar dalam bentuk rumpun atau gerombol-gerombol kecil. Misalnya pekarangan, halaman kantor, halaman sekolah atau halaman hotel dan di tanah-tanah sisa  dan lainnya.
c. Berbentuk jalur yaitu komunitas vegetasinya tumbuh pada lahan yang berbentuk jalur lurus atau melengkung, mengikuti bentukan sungai, jalan, pantai, saluran dan lainnya. 

Struktur Hutan Kota.
    Struktur hutan kota ditentukan oleh keane-karagaman vegetasi yang ditanam, sehingga terbangun  hutan kota yang berlapis-lapis dan berstrata baik secara vertikal maupun horizontal yang meniru hutan alam. Struktur hutan kota yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan yang menyusun hutan kota. Dapat diklasifikasi menjadi hutan kota yang:
a. Berstrata dua yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan hutan kota hanya terdiri dari pepohonan  dan rumput atau penutup tanah lainnya;
b. Berstrata banyak yaitu komunitas tumbuh-tumbuhan hutan kota selain terdiri dari pepohonan dan rumput juga terdapat semak, terna, liana, epifit, ditumbuhi banyak anakan dan penutup tanah, jarak tanam rapat tidak beraturan, dengan strata dan komposisi mengarah meniru komunitas tumbuh-tumbuhan hutan alam. Struktur hutan kota yang berstrata banyak terbukti dalam penelitian Zoer’aini Djamal Irwan (1994) paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota yang berhubungan dengan suhu udara, kebisingan, debu dan kelembaban udara. Hasil analisis secara multidimensi dari lima jenis hutan kota, ternyata hutan kota yang berbentuk menyebar strata banyak paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota di sekitarnya. Fungsi dan manfaat hutan kota yang berbentuk menyebar ini  akan menyebar pula, jika dibandingkan dengan fungsi dan peranan hutan kota yang berbentuk  bergerombol. Dari hasil penelitian ini jelas terlihat bahwa persepsi selama ini tentang hutan kota dapat dikembangkan yaitu mengembangkan  bentuk dan struktur komunitas tumbuh-tumbuhan yang menyusunnya. Bentuk dan struktur hutan kota ini merupakan  usaha untuk  mengatasi semakin berkurangnya lahan untuk hutan kota, dapat diimbangi dengan fungsi hutan kota itu. Peningkatan fungsi hutan kota adalah dengan cara peningkatan struktur yang berlapis-lapis  (strata) yang menyerupai hutan alam. Dalam hal ini disamping berusaha untuk mendapatkan lahan untuk  hutan kota, juga diusahakan peningkatan struktur komunitas tumbuh-tumbuhan yang menyusunnya.

    Michael  (1986) mengemukakan bahwa aspek-aspek struktur vegetasi secara garis besar ditentukan oleh bentuk pertumbuhan vegetasi, ukuran, bentuktajuk, fungsi daun, ukuran dan tekstur daun. Bentuk pertumbuhan vegetasi dapat dibagi menjadi empat kelompok utama yaitu yang berbentuk pohon adalah tumbuhan berkayu yang mempunyai satu batang dan bercabang-cabang, mempunyai ketinggian diatas 8 m. Ketinggian ini yang membedakan pohon dengan semak-semak (shrubs). Semak-semak mempunyai beberapa batang, dan umumnya mempunyai ketinggian dibawah 8  m. Bentuk yang lain adalah herba yaitu tumbuhan yang tidak berkayu, dan tegak. Terakhir adalah bryoids yang terdiri dari seperti lumut, paku-pakuan, cendawan. Ukuran dibagi berdasarkan tinggi vegetasi. Bentuk dan ukuran daun adalah besar, lebar, menengah, kecil, seperti jarum, rumput-rumputan dan campuran. Tekstur daun ada keras, papery dan sukulen. Coverage biasanya sangat beragam, ada tumbuhan yang sangat tinggi dengan penutupan horisontal dan luas, relatif dapat sebagai penutup, ada menyambung dan terpisah-pisah. Penutupan tumbuhan merupakan indikasi dari sistem akar di dalam tanah. Sistem akar sangat penting dan mempunyai pengaruh kompetisi pada faktor-faktor ekologi.

FUNGSI HUTAN KOTA.
     Fungsi hutan kota sangat tergantung kepada komposisi dan keanekaragam jenis dari komunitas vegetasi  yang  menyusunnya dan kepada tujuan perancangannya. Secara garis besar  fungsi  hutan kota dapat dikelompokkan menjadi 3 fungsi (pada Gambar 1) sebagai berikut: 

1. Fungsi lansekap.
a. Fungsi lansekap meliputi fungsi fisik.  Vegetasi berfungsi antara lain untuk perlin-dungan terhadap kondisi fisik alami sekitarnya terhadap angin, sinar matahari, pemandangan yang kurang bagus dan terhadap bau. Pengguna-an dalam unsur struktur ini ditentukan oleh u-kuran, bentuk kerapatan vegetasi. Kegunaan arsitektural vegetasi sangat penting di dalam tataruang luar. Dengan tekstur vegetasi kasar sedang, dan halus dapat digunakan pada ruang luar untuk menghubungkan bangunan dengan tapak disekitarnya, menyatukan dan menyelaraskan lingkungan sekitar yang seolah-olah tidak beraturan, memperkuat titik-titik dan area-area tertentu dalam lansekap, mengurangi kekakuan unsur-unsur arsitektural yang keras dan membingkai pemandangan yang terpilih. Dalam hal ini vegetasi berfungsi sebagai pelengkap pemersatu, penegas, pengenal, pelembut, dan pembingkai.
b. Fungsi lansekap yang meliputi fungsi sosial.  Penataan vegetasi dalam hutan kota yang  baik akan memberikan tempat interaksi sosial yang sangat produktif. Di dalam hutan kota  orang seperti  panyair atau seniman lainnya dapat merenung, menghayal sehingga dapat merupakan sumber inspirasi dan ilham. Hutan kota dengan aneka vegetasi mengandung nilai-nilai ilmiah sehingga  dapat sebagai laboratorium hidup untuk sarana pendidikan dan penelitian. Fungsi kesehatan (hygiene),  misalnya untuk terapi mata dan mental serta fungsi rekreasi, olah raga, dan tempat interaksi sosial lainnya. Rekreasi erat kaitannya dengan estetika dan merupakan bagian dari hidupnya manusia, yaitu berbagai kegiatan untuk mencari kesegaran mental  dalam rangka memperbaiki semangat seseorang, yang menimbulkan inisiatif dan perspektif kehidupan sehingga siap kembali untuk bekerja keras (Douglass, 1970). Fungsi sosial politik ekonomi misalnya untuk persahabatan antar negara. Hutan kota dapat memberikan  hasil  tambahan secara ekonomi untuk kesejahteraan penduduk seperti buah-buahan, obat-obatan  sebagai warung hidup dan apotik hidup.

2. Fungsi Pelestarian Lingkungan (ekologi).
     Dalam  pengembangan  dan pengendalian kualitas  lingkungan fungsi  lingkungan diutamakan tanpa mengesampingkan fungsi-fungsi lainnya. Fungsi lingkungan ini antara lain adalah:
a.  Menyegarkan udara atau sebagai "paru-paru kota". Fungsi menyegarkan udara yaitu tumbuh-tumbuhan dalam proses fotosintesis akan mengambil CO2 dari udara dan air dari dalam tanah. Proses ini menghasilkan O2  dan untuk makanan  sebagai sumber energi yang sangat diperlukan  bagi makhluk hidup untuk  hidup dan berkembang.  Kriedemann  (1977)  mengemukakan bahwa fotosintesis adalah suatu proses mendasar yang sangat penting untuk tanaman hortikultura, karena 90-95% dari berat basah tanaman merupakan hasil langsung dari aktivitas fotosintesis:
                        sinar matahari                   
6 CO2 + 6 H2O   ------------->  C6H12O6 + 6 O2
                            khlorofil                       
                              enzim          

Fotosintesis adalah suatu proses metabolisme tumbuh-tumbuhan berhijau daun yang sangat dinamis,  tanggap terhadap panjangnya hari dan faktor-faktor iklim. Kemampuan melepaskan O2  tergantung  kepada tumbuhan hijau yang mempunyai chlorofil tinggi, dan laju fotosintesis tinggi dengan titik kompensasi cahaya rendah.  Monteith (1990) mengemukakan bahwa fotosintesis pada tanaman yang tumbuh normal akan menggunakan semua CO2 pada lapisan  30 meter diatas tanaman dalam sehari. Odum (1971) menunjukkan bahwa produktivitas daripada efisiensi fotosintesis menjadi penting untuk kelangsungan hidup populasi tumbuhan.  Menurut Grey and Deneke (1976) setiap tahun vegetasi di bumi ini mempersenyawakan sekitar 150.000 juta ton CO2  dan 25.000 juta ton hidrogen dengan membebaskan 400.000 juta ton O2 ke atmosfir, serta menghasilkan 450.000 juta ton zat-zat organik. Setiap jam 1 ha daun-daun hijau menyerap 8 kg CO2 yang ekuifalen dengan CO2 yang dihembuskan oleh nafas manusia sekitar 200  orang dalam waktu yang sama sebagai hasil pernafasannya.  O2 sebagai  hasil  fotosintesis sebagian  dimanfaatkan  kembali oleh tumbuhan untuk berjalannya proses respirasi (pernafasan).   Pada proses respirasi justru memerlukan O2 dan menghasilkan CO2. Seperti yang dikemukakan oleh Soemarwoto (1991) bahwa pada fase pertumbuhan, tumbuhan atau sekumpulan tumbuhan seperti hutan, laju fotosintesis (P) lebih besar daripada proses pernafasan (R), sehingga  P/R = >1.  Pada fase ini laju pengikatan CO2 lebih besar daripada laju emisi CO2, sehingga hutan mengurangi kadar CO2  dalam atmosfir. Akan tetapi makin besar hutan, semakin  banyak daun yang ternaungi dan semakin besar pula proporsi bagian tumbuhan  yang kurang  mengandung klorofil seperti batang dan akar.  Dengan demikian nisbah P/R semakin mengecil, akhirnya akan mendekati 1.  Bila tumbuhan atau hutan itu mencapai keseimbangan dinamik, maka laju pengikatan CO2 sama dengan laju pelepasan CO2. Begitu pula tumbuhan yang muda biasanya P/R>1,  semakin tua tumbuhan P/R semakin mendekati 1.

b. Menurunkan  Suhu  Kota  dan meningkatkan  kelembaban.  Kelembaban  udara menunjukkan kandungan  uap air di atmorfir pada suatu saat dan waktu tertentu. Kelembaban udara  berhubungan dengan kesetimbangan energi dan merupakan ukuran banyaknya energi radiasi  berupa panas laten yang dipakai untuk menguapkan air yang terdapat dipermukaan yang menerima radiasi. Makin banyak air yang diuapkan, makin banyak energi yang berbentuk panas laten dan makin lembab udaranya. Uap air di atmosfir bertindak sebagai pengatur panas (suhu  udara) karena  sifatnya  dapat menyerap energi radiasi matahari gelombang pendek  maupun gelombang panjang. Monteith dan  Unsworth (1990)  mengemukakan  bahwa  kelembaban nisbi adalah perbandingan tekanan uap air aktual terhadap tekanan uap jenuh pada suhu yang sama.
    Evaporasi dipengaruhi oleh suhu dan merupakan pertukaran antara panas laten dan panas terasa (sensibel). Tanaman yang tinggi laju eva-potranspirasinya lebih besar. Kehilangan panas karena terjadinya evaporasi akan menyebabkan suhu disekitar tanaman menjadi lebih sejuk. Menurut Grey dan Deneke (1976) pepohonan dengan vegetasi lainnya dapat memperbaiki suhu kota melalui evapotranspirasi. Sebatang pohon yang terisolir akan menguapkan air sekitar 400 liter/hari, jika air tanah cukup tersedia (Kramer dan Kozlowski, 1970) dan (Federer, 1970). Untuk mengurangi pengaruh berkurangnya kelembaban udara perlu diadakan penghijauan dengan penghutanan, taman-taman,  air mancur, RTH, situ-situ dan rawa. Kota yang berkembang memakai energi lebih banyak, menyebabkan udara bertambah panas yang memerlukan  kelembaban udara  dari pepohonan atau hutan kota. Hasil penelitian Sani (1986) menunjukkan ada perbedaan suhu  di luar dan di dalam taman kota kecil sebesar 4,5°C di Kualalumpur. Menurut Zoer'aini Djamal Irwan (1994) hutan kota dapat menurunkan  suhu  kota  sekitarnya sebesar 3,46% di siang hari pada permulaan musim hujan. Sedangkan hutan kota menaikkan kelembaban sebesar 0,81% di siang hari pada permulaan musim hujan. Hutan  kota berstrata banyak ternyata lebih banyak meningkatkan kelembaban yaitu sekitar 3,48% dibandingkan dengan yang berstrata dua.
     Struktur vegetasi berstrata banyak ternyata paling efektif menanggulangi  masalah lingkungan kota (suhu udara, kebisingan, debu dan kelembaban udara). Hasil analisis secara multidimensi dari lima jenis hutan kota, ter-nyata hutan kota yang berbentuk menyebar strata banyak paling efektif menanggulangi masalah lingkungan kota di sekitarnya. Waktu  waktu pengukuran tertentu  menunjukkan bahwa hutan kota berpengaruh positif dan nyata terhadap suhu dan kelembaban terutama pada yang berstrata banyak. Trend menunjukkan bahwa  semakin  tinggi suhu  dan semakin rendah kelembaban semakin besar pengaruh hutan kota. Dalam  hal  ini  hutan  kota mempunyai pengaruh besar pada daerah-daerah yang suhunya tinggi.
    Hutan  kota  dapat memberikan kenyamanan dan kenikmatan kepada penduduk kota jika kita dapat mengembangkan dan membangun hutan kota yang berstruktur, dengan keanekaragam jenis dan  jumlah  yang banyak serta ditata dengan baik. Tingkat kenyamanan seseorang selain tergantung kepada antara lain usia, kebudayaan, sangat ditentukan oleh suhu dan kelembaban (iklim mikro). Kenyamanan dapat di desain pada batas-batas tertentu dengan menggunakan vegetasi dan memodifikasi suhu, angin dan kelembaban. Diharapkan hutan kota dapat memenuhi tingkat kenyamanan yang dikehendaki, karena hutan kota dapat memodifikasi iklim mikro. Penilaian rasa nyaman disekitar hutan kota dapat dihitung dari suhu udara dan kelembaban udara. Hutan  kota yang berstrata banyak memberikan lingkungan sekitarnya relatif lebih nyaman daripada yang berstrata dua. Demikian pula di dalam hutan kota  lingkungannya  lebih nyaman dibandingkan dengan di luar hutan kota.

c.  Sebagai Ruang Hidup Satwa. Vegetasi atau tumbuhan selain sebagai produsen  pertama  dalam ekosistem  juga dapat menciptakan ruang hidup (habitat) bagi makhluk hidup lainnya.  Sebagai contoh burung. Burung sebagai komponen ekosistem mempunyai peranan penting, diantaranya adalah mengontrol populasi serangga, membantu penyerbukan bunga dan pemencaran  biji. Kehadiran burung  di  kota mempunyai arti penting sebagai penyerbuk bunga dan pemencar biji, sangat penting artinya dalam membantu proses regenerasi hutan. Hampir pada setiap bentuk kehidupan terkait erat dengan burung, sehingga burung mudah dijumpai di beberapa tempat. Dengan kondisi tersebut diduga burung dapat dijadikan sebagai indikator ingkungan, karena apabila terjadi pencemaran lingkungan, burung merupakan komponen alam terdekat yang terkena pencemaran. Burung berperanan dalam rekreasi alam, ini terbukti dengan adanya taman burung yang selalu dikunjungi orang, untuk menikmati bunyi, kecantikan ataupun kecakapan burung. Burung mempunyai nilai pendidikan dan penelitian. Keindahan burung dari segala yang dimilikinya akan memberikan suatu kenikmatan tersendiri. Kebiasaan burung-burung beranekaragam, ada burung yang mempunyai kebiasaan berada mulai dari tajuk sampai kebawah tajuk. Ini menunjukkan bahwa bila hutan kota mempunyai komposisi banyak jenis, berlapis-lapis dan berstrata akan memikat banyak burung. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa burung lebih banyak dijumpai baik jenis maupun jumlahnya pada hutan kota yang ditanami dengan tanaman produktif (berbunga, berbuah, berbiji) pada struktur hutan kota yang berstrata banyak. Kehadiran burung pada hutan  kota yang  berstara banyak selain karena jumlah vegetasi yang beranekaragam, juga pohonnya adalah jenis buah-buahan (tanaman produktif) Tanaman produktif dalam hal ini adalah tanaman  yang menghasilkan bunga, buah, biji, sehingga memberikan kesempatan lebih besar kepada burung (herbivor) yang  menyukainya untuk datang, mencari makan, bercengkrama atau bersarang. Kehadiran burung juga dapat terjadi karena adanya informasi dari hutan kota terhadap burung misalnya bentuk tajuk, aroma, dahan, ranting maupun estetika dari vegetasi yang ada.

d. Penyanggah dan Perlindungan Permukaan Tanah dari Erosi. Fungsi hutan kota lainnya sebagai penyanggah dan perlindungan permukaan tanah dari air hujan dan angin juga untuk penyediaan air tanah dan pencegahan erosi.

e. Pengendalian dan Mengurangi Polusi Udara dan Limbah. Fungsi pengendalian atau mengurangi  polusi  udara  dan limbah, menyaring debu. Debu atau partikulat terdiri dari beberapa komponen  zat  pencemar.
     Dalam sebutir debu terdapat unsur-unsur seperti garam sulfat,sulfuroksida, timah hitam, asbestos, oksida besi,silika, jelaga dan unsur kimia lainnya.  Pencemaran debu secara langsung dapat menyebabkan kerusakan pada organ pernafasan dan kulit. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa hutan kota dapat menurunkan kadar debu sebesar 46,13% di siang hari pada permulaan musim hujan.  Hutan  kota yang  berstrata banyak lebih efektif menurunkan kadar debu yaitu sebesar 53,56%,  dibandingkan dengan hutan kota yang berstrata dua menurunkan kadar debu sebesar 42,89%. Berbagai hasil penelitian lainnya menunjukkan bahwa vegetasi dapat mengakumulasi berbagai jenis polutan. Penelitian Wargasasmita et  al. (1991)  menunjukkan bahwa tumbuhan dapat mengakumulasi Pb pada daun dan kulit batangnya. Terbukti dari hasil penelitian itu bahwa kandungan Pb lebih banyak pada tanaman di tepi jalan dibandingkan dengan kandungan Pb  pada tumbuhan sejenis, di lokasi yang jauh dari pinggir jalan. Jahja Fakuara et al., menemukan dalam penelitiannya bahwa Cassia siamea (johar), Pithecellobium dulce (asam  landi), dan Swietenia macrophylla (mahoni) mempunyai kemampuan yang tinggi dalam menyerap Pb.

e. Peredaman Kebisingan. Kebisingan adalah suara yang berlebihan, tidak diinginkan dan sering disebut "polusi tak terlihat" yang menyebabkan efek fisik dan psikologis. Efek fisik berhubungan dengan transmisi gelombang suara melalui udara, efek psikologis berhubungan dengan respon manusia terhadap suara. Telinga manusia dapat mendeteksi frekuensi suara berkisar antara 20 - 20.000 CPS. Intensitas suara yang dapat didengar oleh telinga manusia antara 0 - 120 desibel. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan (1994) menunjukkan bahwa hutan kota dapat menurunkan kebisingan sebesar 18,94% pada siang hari dipermulaan musim hujan. Hutan  kota yang berstrata banyak lebih efektif menurunkan kebisingan yaitu sebesar 25,34% dibandingkan dengan hutan kota berstrata dua dapat menurunkan kebisingan sebesar 14,58%
     Seberapa jauh tingkat kebisingan dapat dikontrol oleh vegetasi tergantung kepada jenis spesis, tinggi tumbuhan, kerapatan, dan jarak tumbuh; faktor iklim yaitu angin, kecepatan, suhu dan kelembaban;  properti dari suara yaitu tipe, asal, tingkat desibel, dan intensitas suara. Gelombang suara  diabsorbsi oleh daun-daun, cabang-cabang, ranting-ranting dari pohon dan semak. Telah dipostulasikan bahwa bagian tanaman yang paling efektif untuk absorbsi suara adalah bagian yang memiliki daun tebal, berdaging dengan banyak petiole. Kombinasi ini memberikan tingkat fleksibilitas dan vibrasi tertinggi (Robinette 1972, dalam Grey dan Deneke 1978). Suara juga didefleksi dan direfraksi oleh cabang yang lebih besar dan batang pohon. Diduga hutan  dapat mereduksi suara pada tingkat 7dB setiap 30 m dengan jarak dan frekuensi pada sekitar 1000 CPS (Embleton, 1963 dalam Grey dan Deneke 1978).  Hasil penelitian Bianpoen et al.(1988) menunjukkan bahwa kadar debu, kebisingan maupun suhu di dalam taman lebih rendah.

f. Tempat Pelestarian Plasma nutfah dan bioindikator. Hutan kota juga berfungsi sebagai tempat pelestarian plasma nutfah dan bioindikator dari timbulnya masalah lingkungan  seperti hujan asam. Karena tumbuhan tertentu akan memberikan reaksi tertentu akan perubahan lingkungan yang terjadi disekitarnya. Plasma nutfah sangat diperlukan dan mempunyai nilai yang sangat tinggi dan diperlukan untuk kehidupan.  Masih banyak jenis vegetasi yang belum dikenal, terutama jenis-jenis liar. Jenis-jenis liar dimaksud diperlukan terutama dalam dunia kesehatan, sebagai bahan baku untuk obat-obatan. Di dunia pertanian sangat berguna jika jenis liar tersebut di kawinkan dengan jenis yang sudah dikenal dalam  rangka mencari bibit unggul. Hutan kota merupakan habitat bagi satwa, seperti burung akan memakan biji-bijian, kemudian burung-burung itu akan berterbangan kesana kemari dan sekaligus akan turut menyebar luaskan biji-bijian tadi akan tumbuh. Begitu pula angin akan membantu penyebaran spora, biji-bijian dan lainnya dari berbagai jenis spesis vegetasi di hutan kota. Diharapkan dalam waktu tertentu akan bermunculan jenis-jenis yang yang sudah dikenal ataupun yang belum dikenal.

g. Menyuburkan Tanah. Sisa-sisa tumbuhan akan dibusukkan oleh mikroorganisma dan akhirnya terurai menjadi humus atau materi yang merupakan sumber hara mineral bagi tumbuhan.

3. Fungsi Estetika. 
     Karakteristik  visual atau estetika erat kaitannya dengan rekreasi. Ukuran, bentuk, warna dan tekstur tanaman serta unsur komposisi dan hubungannya dengan lingkungan sekitarnya, merupakan faktor yang mempengaruhi kualitas estetika. Kualitas visual vegetasi sangat penting, karena tanggapan seseorang merupakan reaksi dari suatu penampakan. Hutan selain memberikan hasil utama dan sebagai sumber air, juga merupakan sarana untuk berekreasi. Rekreasi sudah merupakan bagian dari hidupnya manusia. Berbagai kegiatan untuk mencari kesegaran mental sesorang disebut rekreasi. Rekreasi yang bermanfaat dan menyenangkan misalnya suatu permainan, seperti teka teki silang, sebagai selingan pada saat istirahat setelah lelah bekerja. Banyak sekali variasinya rekreasi, namun hasilnya sama saja. Yaitu untuk mengembalikan semangat Rekreasi dapat memperbaiki semangat seseorang, menimbulkan inisiatif dan perspektif kehidupan; sehingga siap kembali untuk bekerja keras (Douglass, 1970). Faktor-faktor yang mempengaruhi rekreasi ruang luar adalah: penduduk (jumlah penduduk, tempat tinggalnya, umur, pendidikan) ;uang; waktu; komunikasi;dan persediaan (yang tercapai, yang sesuai). Tipe area rekreasi antara lain: Hutan; Taman;   Camping; Marina; Hutan Kota.
    Suatu  penataan vegetasi dapat berfungsi dengan baik misalnya sebagai pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah namun apabila visualnya tidak menarik, hal ini akan mengganggu pandangan. Penataan tanaman yang berhasil adalah apabila vegetasi itu berfungsi, akan tetapi juga  harus menarik. Vegetasi dapat memberikan keindahan  dari  garis, bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang, akar, bunga, buah maupun aroma. Pohon dan semak sebagai bingkai pemandangan. Estetika dapat dilihat dari penampilan  vegetasi  dalam hutan kota secara individu maupun dalam bentuk asosiasi. Vegetasi dengan gerakannya dapat memberikan suara yang memberikan suasana alamiah. Dengan terdapatnya unsur-unsur penghijauan yang di rencanakan secara baik dan menyeluruh akan  menambah keindahan kota. Booth (1979) dan Robinette (1976) mengemukakan bahwa fisiognomi vegetasi dapat digunakan sebagai  aksen dan penghubung visual, yang dipengaruhi oleh ukuran, bentuk, warna dan tekstur. Vegetasi memberikan kesan alami lingkungan, khususnya lingkungan perkotaan, dan memberikan kesegaran visual terhadap lingkungan yang serba  keras. Vegetasi tidak hanya memberikan kesan lembut terhadap lingkungan yang keras, akan tetapi dengan ketidak teraturannya akan membuat lingkungan yang harmonis. Hasil penelitian Zoer'aini Djamal Irwan menunjukkan  bahwa penilaian estetika terhadap dua jenis pohon dominan yang tumbuh dalam masing-masing hutan kota, digabungkan dengan penilaian asosiasi vegetasi hutan kota secara  keseluruhan diperoleh hasil bahwa hutan kota yang berstrata banyak mempunyai nilai  estetika  lebih  tinggi, daripada hutan kota berstrata dua.

EKOLOGI BASIS PEMBANGUNAN HUTAN KOTA
     Semua  yang telah diuraikan tadi dasar utamanya adalah ekologi. Manusia telah tertarik  dengan ekologi sejak awal sejarahnya. Masyara-kat primitif untuk hidupnya harus mengenal lingkungannya terlebih dahulu, yaitu mengenai tenaga-tenaga alam, tumbuh-tumbuhan serta binatang  disekitarnya.  Ekologi adalah ilmu yang mempelajari pangaruh faktor lingkungan terhadap jasad hidup atau suatu ilmu yang mencoba mempelajari hubungan antara makhluk  hidup  dengan lingkungannya dimana mereka hidup, bagaimana kehidupannya dan mengapa mereka ada disitu. Makhluk hidup terdiri dari tumbuh-tumbuhan, hewan dan manusia sedangkan lingkungan adalah sejumlah unsur-unsur dan  kekuatan-kekuatan di luar organisma yang mempengaruhi kehidupan organisma dimaksud. Ekologi  berasal dari bahasa Yunani (oikos = rumah atau tempat hidup). Secara harafiah ekologi adalah pengkajian hubungan organisma-organisma atau kelompok organisma terhadap lingkungannya. Ekologi hanya mempelajari apa yang ada dan apa yang terjadi dialam. Ekologi mutakhir adalah suatu studi yang mempelajari struktur" dan fungsi" ekosistem atau alam dimana manusia adalah bagian dari alam. Struktur disini menunjukkan suatu keadaan dari sistem ekologi pada waktu dan tempat tertentu termasuk kerapatan/kepadatan, biomas, penyebaran potensi unsusr-unsur hara, energi, faktor-faktor fisik dan kimia lainnya yang mencirikan keadaan sis-tem  tersebut. Sedangkan fungsinya menggambarkan hubungan sebab akibat yang terjadi dalam sistem. Jadi pokok utama ekologi adalah mencari pengertian bagaimana fungsi organisma di alam. Pada dasarnya ekologi adalah ilmu dasar yang tidak mempraktekkan sesuatu. Ekologi ada-lah ilmu tempat mempertanyakan dan menyelidik. Ekologi berkaitan dengan berbagai ilmu pengetahuan yang relevan dengan kehidupan (pera-daban) menusia. Seorang yang belajar ekologi sebenarnya bertanya tentang berbagai hal sebagai berikut: bagaimana alam bekerja; bagaimana suatu spesis beradaptasi dalam habitatnya; apa yang mereka perlukan dari habitatnya itu untuk dapat dimanfaatkan guna melangsungkan kehi-dupan, bagaimana mereka mencukupi kebutuhannya akan unsur hara (materi) dan energi; bagaimana mereka berinteraksi dengan spesis lainnya; bagaimana  individu-individu dalam spesis itu diatur dan berfungsi sebagai populasi.
    Kalau  direnungkan, kemajuan ilmu pengetahuan  dan teknologi (IPTEK) dapat dikatakan merupakan pedang bermata dua yang berarti dapat digunakan untuk memahami keseluruhan manusia dan alam atau dapat pula untuk menghancurkanya. Manusia dengan kelebihannya yang mempunyai akal dan pikiran dalam kemajuan teknologi merasa makhluk yang paling "berkuasa" dialam ini. Penemuan-penemuan yang pada mulanya bertujuan untuk kesejahteraan manusia dapat menjadi bumerang terhadap hidupnya bila prinsip-prinsip ekologi diabaikan. Untuk hidup dan  hidup  berkelanjutan manusia harus belajar memahami lingkungannya dan  pandai mengatur pemakaian sumber-sumber daya alam dengan cara-cara yang dapat dipertanggung jawabkan demi pengamanan dan kelestarian alam ini. Setiap makhluk hidup yang sehat selalu be-rada  dalam keseimbangan, walaupun setiap saat mengalami perubahan. Dengan cara yang sama seluruh dunia kehidupan pada setiap saat menuju keseimbangan. Setiap kehidupan selalu berubah baik dalam jangka pendek, maupun dalam jangka panjang. Dalam ekologi semua itu harus dipelajari. Yaitu hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya. Ekologi pada dewasa ini telah menjadi "bintang" diantara cabang ilmu pengetahuan yang selama ini hanya  menjadi penunjang. Prinsip-prinsip ekologi dapat menerangkan dan  mengilhami kita dalam mencari jalan untuk mencapai kehidupan yang lebih layak. Pada dewasa ini sangat peka dengan masalah lingkungan dalam mengadakan dan memelihara mutu peradaban manusia maka ekologi merupakan cabang ilmu yang mendasarinya dan yang selalu berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.
    Untuk  mengerti hubungan antara organisma dan lingkungan, semua bidang ilmu yang dapat menerangkan  tentang  komponen-komponen  itu sangat diperlukan. Ekologi mempunyai ruang lingkup yang sangat luas. Makhluk hidup berinteraksi dengan lingkungan fisik (energi dan mineral) pada setiap tingkat menghasilkan sistem-sistem fungsional yang khas, terdiri dari komponen-komponen yang secara teratur berinteraksi dan saling ketergantungan serta membentuk satu kesatuan secara keseluruhan. Didalam ekologi istilah populasi dinyatakan sebagai golongan-golongan  individu-individu dari setiap spesis organisma. Sedangkan komunitas adalah semua populasi-populasi  yang menduduki daerah tertentu. Komunitas dan lingkungan yang tidak hidup berfungsi bersama sebagai sistem ekologi atau ekosistem. Agar mudah dimengerti hubungan organisma dan lingkungannya, semua bidang ilmu yang dapat menerangkan setiap makhluk hidup dan  lingkungan sangat diperlukan. Penyebaran, adaptasi dan aspek-aspek fungsi organisma dari komunitas banyak dipelajari dalam ekologi dan erat hubungannya dengan ilmu-ilmu biologi lainnya seperti taxonomi, marphologi, physiologi, genetika. Sedangkan klimatologi, ilmu tanah, geologi, dan fisika memberikan informasi mengenai keadaan lingkungan. Jadi pengetahuan fisika dan biologi sangat diperlukan bagi seorang ahli ekologi untuk dapat mengungkapkan hubungan antara lingkungan dan  dunia kehidupan.
    Odum  (1983)  mengemukakan bahwa jaringan dari komponen-komponen dan proses yang terjadi pada lingkungan merupakan sebuah sistem. Ekosistem merupakan kesatuan dari suatu komunitas dengan lingkungannya dimana terjadi hubungan, antar vegetasi, hewan dan segala macam bentuk materi yang melakukan siklus da-lam sistem, dan energi yang menjadi sumber ke-kuatan. Untuk mendapatkan energi dan materi yang diperlukan bagi hidupnya, semua bergantung kepada lingkungan abiotik. Organisma produsen memerlukan energi, cahaya, oksigen, air dan garam-garam yang semuanya diambil dari lingkungan abiotik. Energi dan  materi dari konsumen tingkat pertama diteruskan ke konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke konsumen-konsumen lainnya melalui jaring-jaring makanan. McNaughton and Wolf (1979)  mengemukakan bahwa suatu karakteristik linier tentang aliran energi dan zat-zat kimia melalui organisme disebut rantai makanan. Energi dan materi dari konsumen tingkat pertama yaitu vegetasi diteruskan  ke  konsumen tingkat kedua dan seterusnya ke konsumen-konsumen lainnya melalui jaring-jaring makanan.
    Ekosistem  adalah sistem rumah tangga alam, yang terdiri dari berbagai komponen  dan  secara alamiah selalu berusaha untuk mencapai suatu keseimbangan di alam. Jika diamati di sekeliling kita, akan terlihat bahwa dunia kehidupan itu selalu berubah-ubah. Seperti ada-nya  perubahan-perubahan musim. Tumbuh-tumbuhan sebagai produsen pertama dan ada hewan yang memakan tumbuh-tumbuhan seperti burung atau tikus dalam hal ini disebut konsumen. Misalnya tikus yang berkembang biaknya sangat cepat dan anaknya sangat banyak, dalam hal ini berkembang biak terus tanpa ada pengendalian, maka akan mengakibatkan tikus-tikus itu akan menghabiskan tumbuh-tumbuhan dan akan kehabisan makanan, yang berakibat tikus-tikus itu akan mati kelaparaan. Namun hal tersebut tidak akan terjadi karena adanya kucing atau ular misalnya yang memakan tikus (disebut predator). Kucing dan ular tersebut akan mengurangi jumlah tikus, sehingga tumbuhan tidak akan habis, tikus tidak akan kahabisan makanan. Dalam hal ini telah terjadi suatu keseimbangan. Perkembangan jumlah tikus yang tak terkendalikan akan membahayakan kehidupan tikus itu sendiri termasuk kehidupan manusia. Demikian pula untuk hewan lain atau organisma lainnya, termasuk manusia jika perkembang biakan tak terkendalikan  akan membahayakan kehidupannya. Ini adalah suatu spek dari keseimbangan.
     Suatu kajian ekologi penting mengenai bagaimana komunitas tumbuh dan berkembang. Faktor-faktor yang memegang peranan penting yaitu ketersediaan bahan pembentuk koloni  atau bahan penyerbu secara kebetulan; pemilihan bahan  yang tersedia dalam lingkungannya dan pengubahsuaian lingkungan oleh tumbuh-tumbuhan. Sejak saat koloni pertama tiba, dari habitat yang gundul dan mulai tumbuh, mereka mulai mengubah lingkungan itu, (Ewusie 1980). Watt (1973) dan Haeruman (1992) mengemukakan bahwa ada lima kelompok sumber alam yang terdiri dari materi, energi, ruang, waktu dan kanekaragaman. Akhir-akhir ini  keanekaragaman hayati menjadi  perhatian dunia. Disadari akan pentingnya keanekaragaman hayati, pada tanggal  6-17 Nopember 1995 telah diselenggarakan konperensi dunia ke dua tentang  keanekragaman  hayati. Kemajuan rekayasa genetika menumbuhkan pengertian banyak orang terhadap perlunya bahan baku utamanya yang beranekaragam.
    Ekosistem  memberikan informasi yang banyak sekali, sangat bermanfaat bagi manusia dan perlu  dipelajari agar manusia dapat melakukan sesuatu yang tepat dalam pengelolaan lingkungan. Interaksi diantara komponen ekosistem tidak hanya terjadi melalui aliran energi dan siklus materi, akan  tetapi juga melalui pertukaran informasi. Informasi dalam hal ini dapat dirumuskan sebagai suatu simbol atau sebagai indikator tentang sesuatu yang terjadi atau yang ada dimasa lalu, baik masa sekarang maupun untuk masa mendatang pada komponen ekosistem, baik secara  ndividu, maupun secara keseluruhan pada sistem itu. Atas dasar sistem informasi ini tepat sekali filosofi masyarakat Minang (Navis, 1986) tentang alam terkembang menjadi guru atau alam tersebut merupakan  laboratorium dalam kehidupan. Ekosistem merupakan satuan fungsional dasar dalam ekologi, karena ekosistem meliputi komunitas organisma hidup (biotik) dan lingkungan tidak hidup (abiotik) dan lingkungan yang saling mempengaruhi, keduanya mempunyai tujuan untuk memelihara kehidupan di dunia ini secara seimbang. Dialam ini organisma hidup dan lingkungan tidak hidup berhubungan erat tak terpisahkan dan saling pengaruh mempengaruhi satu sama lain yang merupakan suatu sistem. Interaksi dimaksud senantiasa terkendali menurut suatu  dinamika  yang Stabil,  untuk  mencapai  suatu kesetimbangan optimum, mengikuti setiap  perubahan yang dapat ditimbulkan terhadapnya dalam ukuran batas-batas kesanggupannya. Interaksi terjadi antara:
Komponen-komponen biotis dengan komponen-komponen abiotis;
Sesama komponen biotis dan
3.  Sesama komponen-komponen abiotis.
    Ekosistem  mempunyai keteraturan, berwujud sebagai kemampuan untuk memelihara sendiri, mengatur sendiri, serta mengadakan keseimbangan kembali yang disebut dengan homeostasis. Homeostasis merupakan kemampuan ekosistem untuk menahan berbagai perubahan dalam sistem secara  keseluruhan  (Watt 1973). Longman and Jenik (1974) mengemukakan bahwa ekosistem hutan tropis merupakan sebuah sistem yang dinamis, adanya saling ketergantungan antara vegetasi dan hewan dengan berbagai interaksi, ada yang bersaing, bekerjasama dan lainnya. Dibawah naungan pohon terdapat perkecambahan, anakan, tumbuh-tumbuhan yang merambat, epifit, lumut menutupi potongan kayu dan kotoran, semut yang memakan atau mengisap cairan dalam bunga, burung-burung yang menyebarkan benih, binatang pengerat memakan buah-buahan, herbivora berkeliaran, dan satwa lainnya. Ewusie (1980) mengemukakan bahwa hutan tropika terkenal dengan perlapisannya. Ini berarti bahwa populasi campuran di dalamnya disusun pada arah vertikal dengan  jarak  teratur secara tak sinambung.  Ricklefs dalam  Anwar  (1984)  mengemukakan bahwa hutan tropis mempunyai keanekaragaman jenis yang tinggi, sebagai contoh hutan Kalimantan di Indonesia menurut Haeruman (1980) mempunyai sekitar 40.000 jenis, terkaya didunia dengan 4000 jenis pohon  besar yang penting.  Dalam  1 ha terdapat  paling  sedikit 60 jenis,  320 pohonan  dengan diameter diatas 10 cm.  Vegetasi yang ada dalam hutan ini  tidak  menggugurkan daun,  kondisinya  sangat  bervariasi, ada yang sedang berbunga, ada  yang  sedang  berbuah,  ada yang  dalam  perkecambahan,  atau  berada dalam tingkatan kehidupan  sesuai  dengan  sifat  atau kelakuan masing-masing jenis vegetasi. Pohon-pohon dari komunitas hutan hujan yang beranekaragam, tingginya rata-rata 46-55 m adakalanya secara individu dapat mencapai 92 m, dengan bentuk pohon pada umumnya ramping. Tinggi pohon tidak sama, seringkali terdapat 3 lapis pohon-pohon, tetapi kadang-kadang  hanya dua lapis. Vegetasi bawah pada hutan hujan terdiri dari semak, terna dan sejumlah anakan serta kecambah-kecambah dari pohon. Disamping itu hutan hujan memiliki tanaman memanjat dari pelbagai bentuk dan ukur-an dan efipit yang tumbuh pada batang dan daun
    Dalam ekosistem tersebut terdapat arus energi yang terlihat pada struktur makanan, kera-gaman biotik dan siklus bahan atau siklus materi (yakni pertukaran bahan-bahan antara bagian yang hidup dan tidak hidup). Menurut Undang-undang Lingkungan Hidup (UULH, 1982) ekosistem adalah tatanan kesatuan secara utuh menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan  peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. Ekosistem seperti halnya dengan komunitas tidak mepunyai batas-batas ruang dan waktu. Suatu ekosistem diatur dan  dikendalikan  secara alamiah dan mempunyai daya kemampuan  yang  optimal  dalam keadaan berimbang. Diatas kemampuan tersebut ekosistem tidak lagi terkendali, yang  menimbulkan perubahan-perubahan lingkungan atau krisis lingkungan yang tidak lagi berada dalam keadaan lestari bagi kehidupan organisma. Setiap ekosistem memiliki sifat-sifat yang khas disamping yang umum dan secara bersama-sama dengan ekosistem lainnya mempunyai peranan terhadap ekosistem keseluruhannya  (biosfir). Setiap ekosistem tergantung dan dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor tempat, waktu dan masing-masing membentuk basis-basis perbedaan di antara ekosistem itu sendiri sebagai pencerminan sifat-sifat yang khas. Masing-masing ekosistem juga melibatkan diri antara ekosistem yang satu dengan yang lainnya, dan saling berinteraksi pula secara tertentu. Suatu ekosistem sangat rumit. Hubungan antar organisma ada yang langsung dan ada  yang  tidak langsung. Dalam beberapa hal hubungannya sangat jauh. Arus energi menempuh barbagai macam jalan. Untuk mempelajari suatu ekosis-tem diperlukan pengamatan yang lama dan sukar. Mungkin tidak ada satu ekosistempun yang dapat dipahami seluruh nya.. Agar hubungan yang terdapat antar organisma dan lingkungan abiotiknya dalam ekosistem dapat dipahami, diperlukan penelitian-penelitian yang  seksama. Dengan konsep ekosistem komponen-komponen lingkungan  hidup  kita lihat secara terpadu sebagai komponen yang berkaitan dan tergantung satu sama lain dalam  suatu sistem. Pendekatan ini disebut pendekatan ekosistem atau pendekatan holistik. Didalam suatu tata ruang yang sempit, berbagai individu akan berdesakan, dimana perlu akan membentuk suatu struktur yang berlapis-lapis. Yakni ada rumput, ada semak, ada belukar, ada pohon dan ada pohon yang tinggi sekali memayungi semuanya, didalam sistem  semuanya ini menempati fungsinya masing-masing. Dan diantara berbagai jenis tumbuhan yang hidup bersama itu ada interaksi kimiawi (allelopati) antara suatu  individu tumbuhan tertentu dengan tumbuhan lain di sekitarnya. Dalam pembangunan yang berwawasan lingkungan setiap pembangunan harus dapat menjaga berfungsinya komponen-komponen lingkungan. Oleh karena itu suatu ekosistem harus dipertahankan kelestariannya, karena memiliki dampak yang menentukan tingkat kehidupan manusia maupun  organisma  lainnya di dunia ini. Energi yang menjadi penggerak sistem kehidupan pada hampir seluruh makhluk hidup berasal dari matahari, sedangkan materi untuk membangun  tubuh organisma berasal dari bumi.


PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN
     Manusia sebagai  satu bagian dari alam merupakan bagian utama dari lingkungan yang kompleks. Kegiatan-kegiatan  seperti  perkembangan penduduk, industri pembangunan jalan-jalan, pemakaian insektisida, unsur-unsur radio aktif pembuatan pelabuhan udara atau terminal bus, pembuatan jalan tol, pembangunan kota baru, merupakan beberapa contoh yang dapat mempercepat proses perubahan lingkungan dari bumi ini. Apalagi bila kegiatan merambah vegetasi  tanpa mempertimbangkan penggantiannya. Seorang ahli ekologi harus dapat melihat kedepan yang lebih bersifat pengamanan dan pemeliharaan untuk dapat hidup lebih baik dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.
     Azas-azas ekologi dalam kenyataan sekarang ini banyak dipakai untuk menganalisis lingkungan hidup manusia, pertambahan penduduk, peningkatan produksi makanan, penghijauan, erosi, banjir, pelestarian hewan-hewan dan tumbuhan yang langka, koleksi buah-buahan yang langka dan pencemaran (polusi) dan lain sebagainya. Pada dasarnya masalah lingkungan itu timbul karena kegiatan manusia sendiri yang tidak mengindahkan atau tidak mengerti prinsip-prinsip ekologi. Setelah semua orang mengerti ekologi, dan ekosistem adalah rumah tangga alam yang  merupakan suatu  sistem, terdiri dari berbagai komponen dan mempunyai tujuan untuk selalu mencapai suatu keseimbangan. Di dalam ekosistem masing-masing komponen mempunyai fungsi dan peranan dalam  mencapai tujuan keseimbangan tadi. Jelas disini jika salah satu komponennya terganggu, maka keseimbangannya akan terganggu. Dalam situasi ini, jika gangguan itu sudah melewati daya dukung dimana sumberdaya yang ada dalam ekosistem itu sudah tidak mampu lagi mendukung kehidupan manusia dengan sejahtera itu berarti sudah terjadi suatu  kerusakan  atau yang  lebih dikenal orang tentang kerusakan lingkungan. 
    Pembangunan  Indonesia  berorintasi  kepada pembangunan  berkelanjutan  yang  berwawasan lingkungan, yaitu  pembangunan  dengan penghematan  penggunaan  sumberdaya,  pertimbangan jauh  kedepan dengan memikirkan kebutuhan anak cucu yang belum lahir. Dengan kata lain yaitu pembangunan  yang  dapat memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengurangi kemampuan untuk memenuhi kebutuhan generasi  mendatang. Banyak definisi atau tentang  pembangunan yang berwawasan  lingkungan, lebih dari 60 definisi yang telah dikemukakan oleh para ahli lingkungan dari seluruh dunia. Pembangunan yang berwawasan lingkungan adalah pembangunan dengan pendekatan ekosistem. Laju pembangunan ditentukan oleh sumberdaya manusia dan sumberdaya alam. Antara pembangunan, sumberdaya alam dan sumberdaya manusia terdapat hubungan timbal balik. Makna pembangunan berekelanjutan berbeda dengan pola pembangunan yang konvensional dalam berbagai segai sebagai berikut:
Dalam pembangunan berkelanjutan sumberdaya alam yang digunakan dijaga keutuhan fungsi ekosistemnya.
Dampak pembangunan terhadap lingkungan diperhitungkan dengan menerapkan sistem analisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)  sehingga:
1.    dampak negatif dikendalikan dan dampak positif dikembangkan.
2.    Diperhitungkan kepentingan generasi masa depan.
3.    Pembangunan dengan wawasan jangka panjang, karena perubangan lingkungan pada  umumnya berlangsung dalam jangka panjang.
4.    Hasil  pengelolaan sumber alam harus memperhitungkan menciutnya sumber alam akibat proses pembangunan. Nilai nilai penciutan sumberdaya alam tidak masuk
     Tujuan pembangunan  Indonesia  bukan hanya mengejar kemajuan lahiriah atau mengejar kepuasan bathiniah saja. Akan tetapi kesinambungan, keselarasan, keserasian antara kedua-duanya yang  menghasilkan manusia seutuhnya. Seperti yang dikemukakan Emil Salim (1984) lingkungan mempunyai karakter oleh karena itu hendaklah diciptakan atau dipelihara  agar lingkungan itu memantapkan karakter manusia. Karakter manusia  seutuhnya mempunyai  ciri-ciri karakter:
1.  Keselarasan hubungan manusia dengan Tuhan, maha pencipta, jadi ciri manusia Indonesia adalah ciri manusia beragama, berarti tumbuhnya ciri beriman.
2.    Keselarasan hubungan manusia dengan masyarakat. Ciri manusia Indonesia adalah ciri bersosial bukan individualis, berarti tumbuh ciri berilmu.
3. Keselarasan hubungan manusia dengan lingkungan alam,  ini  adalah  ciri-ciri  berlingkungan berarti berkembang ciri berbudi.

Hasil karya arsitektur lansekap adalah merubah  lingkungan menjadi lebih
berfungsi  seimbang,  indah, dan  harus  dapat  mempertahankan  ciri  karakter manusia Indonesia yang meliputi iman, ilmu dan budi.

PENUTUP
1.    Globalisasi harus dihadapi, karena tidak mungkin dapat menghindarinya. Dalam era globalisasi masalahnya bukan hanya sekedar berdaulat dalam bidang politik, berdikari dalam bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam bidang sosial budaya, akan tetapi kita juga harus unggul dalam persaingan global itu.
2.    Pada dewasa ini telah lahir perubahan-perubahan sosial yang sangat cepat dan kompleks, dap  mempengaruhi hubungannya dengan alam dan lingkungan,
lingkungan sosial budaya dan ekonomi, yang besar sekali pengaruhnya terhadap gaya hidup masyarakat. Masalah moral dan etika sangat terasa mengalami perubahan, munculnya kelompok-kelompok yang mendewakan materi.
3.    Pembangunan dan pengembangan hutan kota terlebih dahulu kita harus membangun dan menyamakan persepsi tentang Hutan Kota, mulai dari para pengambil keputusan, para pejabat maupun masyarakat. Bahwa hutan kota tidak sama dengan hutan sesungguhnya yang kita ketahui selama ini.
4.    Membangun dan mengembangkan Hutan Kota Paradigma Baru, yaitu Hutan Kota dengan Bentuk dan Struktur sangat penting untuk meningkatkan kualitas lingkungan kota. Hutan Kota Paradigma Baru dapat dibangun dimana saja


Prof DR Ir Hj. ZOER'AINI DJAMAL IRWAN, MS
Guru Besar Arsitektur Lansekap Universitas Trisakti
HP. 0811964964
Email: amboaini@gmail.com dan zurade@hotmail.com

Jakarta,  2 Maret 2014