Senin, 19 Juli 2010

ALAM TAKAMBANG MANJADI GURU

Oleh: Prof. DR. Ir. Zoer'aini Djamal Irwan, M.S

Minangkabau terkenal dengan alam yang elok dan indah, disitu banyak terdapat potensi untuk berekreasi bagi pariwisata. Seperti dikatakan elok ranahnya. Minangkabau, rupo karambia tinggi-tinggi cando pinangnyo lingguyaran, rupo rumpuiknya ganti-gantian, gunuong Marapi jo Singgalang, Tandikat jo gunuong Sago, Pasaman jo gunuong Talang, nan bagunuong babukik-bukik, nan bahutan barimbo labek, nan babukik baguo batu, nan bangarai balurah dalam, nan badanau aie mangalie, nan batasik bapayau-payau. Demikian pula Minangkabau terkenal dengan daerah yang budayanya sangat menonjol. Kalau kita datang ke perpustakaan di negeri Belanda, disitu lengkap tertuang tentang adat budaya Minangkabau. Konon pada zaman Belanda, mereka berusaha membodohi orang kita, dan semua dokumen tentang sejarah ranah Minang, dihancurkan. Mungkin yang bersisa itu sangat sedikit jika ada. Sehingga sulit mencari sejarah Minangkabau yang sesungguhnya, kecuali ke negeri Belanda.
Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam Minagkabau. Pengertian alam disini mempunyai makna yang sangat luas dan sempurna. Alam bagi orang Minangkabau ialah segala-galanya. Di alam kita lahir dan nantinya kita mati, dan di alam pula kita hidup dan berkembang. Kita selalu dapat mengambil contoh ke alam dalam segala hal. Itulah barangkali dasarnya nenek muyang orang Minangkabau menjadikan; “alam terkembang menjadi guru” sebagai filosofi hidupnya.
Jika kita telaah, sebenarnya apa yang ada dialam itu selalu dalam keadaan seimbang, dan selalu terjadi saling mempengaruhi, yang hidup dengan yang hidup, yang tidak hidup dengan yang tidak hidup dan yang hidup dengan yang tidak hidup. Disamping itu pula masing-masing mempunyai fungsi dan peranan untuk mencapai keseimbangan alam tadi. Ketergantungan satu sama lain dari semua komponon yang ada di alam ini, merupakan suatu sistem yang kita sebut dengan ekosistem. Demikianlah kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh alam itu. Lingkungan alam itu sangat mempengaruhi cara hidup dan cara berpakaian setiap orang yang ada di lingkungan itu. Kenapa orang Minang setiap hari memasak menggunakan santan seperti memasak kalio, memasak rendang, ditambah pula dengan memasak gorengan apa saja. Kenapa orang Irian memakai koteka dari kulit kayu, dan makanan pokoknya sagu. Kenapa orang eskimo itu suka memakai pakaian berbulu yaitu dari kulit binatang (beruang). Demikian pula ada daerah yang makanan pokoknya pisang dan suka memakai sutera. Artinya cara makan dan berpakaian seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.
Oleh karena itulah kita harus mempunyai jatidiri, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita jangan meniru apa yang kita lihat atau yang kita perhatikan misalnya dalam tayangan TV. Agama Islam juga mengajarkan dan dapat dipelajari dari banyak ayat dalam Al Qur’an tentang alam. Jika kita memelihara lingkungan kita, menjaga keseimbangan alam tadi, itu berarti ibadah. Pembangunan yang berwawasan lingkungan yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1982, sebenarnya sesuai dengan alam terkembang menjadi guru. Sayang sekali dalam pelaksanaannya belum semua orang menyadari, mengetahuinya, apalagi menghayatinya. Walaupun masih ada orang dengan keserakahannya pura-pura tidak tahu dan tidak peduli.
Bicara masalah alam dan lingkungan sangat luas. Pada kesempatan lain penulis akan memaparkan tentang penghijauan perkotaan dan hutan kota.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar