Oleh: Prof DR Ir Zoer’aini Djamal Irwan
Hari habitat internasional jatuh pada hari Senin minggu pertama bulan Oktober setiap tahun. Kita prihatin menghadapi bumi ini, karena banyak sekali habitat yang telah rusak bahkan musnah. Habitat adalah tempat hidup makhluk hidup. Kekuatiran makhluk hidup akan semakin berkurangnya habitat telah menyebabkan berbagai masalah. Pekarangan, yaitu halaman yang ada disekitar rumah merupakan habitat kita. Kita perlu memelihara dan memanfaatkan pekarangan yang dapat memberikan kesehatan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah.
Untuk mengimbangi kesibukan dan menetralisir kejenuhan hidup sehari-hari yang selalu tertgesa-gesa apalagi kalau keluar rumah selalu menghadapi kemacetan terutama dikota-kota, perlu diciptakan lingkungan yang menarik, serasi dan seimbang disekitar tempat tinggal. Pekarangan adalah lingkungan kita sehari-hari, jika ditata secara konseptual, serta dipelihara dengan baik, akan memberikan lingkungan menarik, nyaman, sehat serta menyenangkan dan membuat kita betah tinggal dirumah. Dengan menanam tanaman yang berproduktif, taman pekarangan dapat memberikan kesehatan yang memenuhi kepuasan jasmaniah dan rohaniah,
Saat krisis yang berkepanjangan melanda bangsa kita, mulai pertengahan tahun 1997, seringnya harga BBM naik, yang memicu kenaikan harga kebutuhan sehari-hari menjadi mahal ada hikmahnya. Kita harus bangkit dari keterlenaan, mari kembali menggali potensi lingkungan dengan menata dan memanfaatkan pekarangan secara konseptual antara lain dengan apotik hidup dan warung hidup.
TAMAN PEKARANGAN YANG KONSEPTUAL
Pada umumya setiap keluarga mempunyai rumah dan setiap rumah mempu-nyai pekarangan, dari yang sempit sampai kepada yang luas. Jika ditelaah peka-rangan mempunyai banyak fungsi. Setiap orang selalu mengidamkan keluarga sejahtera dan menginginkan tinggal dirumah dengan lingkungan yang ideal. Kekhasan pekarangan yang ada di Indonesia dan keanekaragaman flora dan fauna yang dapat mengisi pekarangan merupakan suatu kekayaan yang tiada nilainya bagi bangsa kita. Disamping itu, biasanya keluarga itu memelihara ternak, dimana kotoran ternak itu dapat pula menjadi pupuk untuk tanaman yang ada. Artinya pekarangan adalah sebidang tanah disekitar rumah yang terbatas sering dipagar ada juga yang tidak dipagar, biasanya ditanami dengan beranekaragam jenis ada yang berumur panjang, berumur pendek, menjalar, memanjat, semak, pohon rendah dan tinggi serta terdapat ternak. Dalam hal ini pekarangan merupakan sebuah ekosistem buatan.
Pekarangan jika dimanfaatkan secara konseptual dan dipelihara secara benar dan terus menerus akan memberikan hasil tidak ternilai. Secara konseptual arti-nya dimelakukan dengan pendekatan ekosistem dan memperhatikan semua ke-pentingan yang ada di rumah, seperti kepentingan ibu, bapak, anak2, bahkan pembantu. Selain ditanami dengan tanaman, di pekarangan kita juga dapat me-melihara ternak. Kotoran ternak itu dapat diman-faatkan untuk dijadikan pupuk. Begitu pula sampah atau dauan-dauanan bisa dijadikan pupuk kompos. Selain memberikan hasil bersifat kebendaan untuk memenuhi kebutuhan jasmaniah, pekarangan juga memberikan hasil yang bersifat abstrak yaitu dapat mem-berikan ketenangan, keindahan, dan kedamaian yang dapat memenuhi kebu-tuhan kesehatan rohaniah. Pekarangan dapat merupakan tempat selingan peker-jaan, menyalurkan hobi, dapat menjadi pengikat yang baik bagi anggota keluar-ga, sehingga kebiasaan ibu-ibu bertandang ketetangga, atau menonton ”gosip” di TV, maupun pergi ke mall dapat dikurangi. Demikian pula pengorbanan atau biaya untuk menanami pekarangan jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan hasil yang diberikannya, bahkan hasilnyapun berkualitas tinggi.
Suatu taman dikatakan baik dan menarik, jika taman tersebut mengandung aspek estetika (keindahan), fungsional (bermanfaat) dan pelestarian lingkungan. Banyak orang mengartikan taman hanyalah sebidang tanah dalam kota misalnya taman Monas, taman Puring, taman Ria, atau taman sekitar rumah atau hotel, atau bangunan besar lainnya dimana disitu terdapat rumput peking, palm botol, cycas dan tanaman lain yang mahal-mahal. Taman sebenarnya bukan hanya itu. Taman mempunyai pengertian yang luas sekali, dan setiap orang dapat mempunyai pengertian sendiri-sendiri. Menurut seorang ahli hortikultura, taman adalah kebun tempat tanamannya tumbuh. Menurut seorang penyair, taman adalah tempat dimana dia dapat mengasingkan diri, bersistirahat merenung untuk mendapatkan inspirsi dan kegembiraan. Bagi seorang arsitek taman terbatas pada suatu perancangan dari segi estetika dan fungsional. Disini terlihat bahwa pengertian taman itu sangat relatif.
Pengertian modern taman didasarkan kepada:
1.Adanya hubungan erat antara manusia dan aktifitasnya serta kesenangannya, yang
dapat memenuhi kebutuhan jasmaniahnya.
2.Adanya hubungan erat dengan keindahan yang memberikan kesenangan pancaindera dan
perasaannya, yang dapat memenuhi kebutuhn rochaniah.
Taman secara umum dapat dikatakan suatu daerah luas atau sempit dimana terdapat keselarasan dan kesatuan dari unsur-unsur tanaman hias dan benda-benda lainnya yang terdapat di dalamya sehingga memberikan suatu pemandangan. Daerah itu dapat berarti pegunungan, taman rekreasi, kota, kampung, pekarangan dan lainnya. Tentang luas atau sempitnya daerah itu tidak menjadi persoalan.
Pemanfaatkan pekarangan mejadi taman yang indah memberikan keuntungan seperti:
1.Adanya potensi pekarangan sebagai penghasil (tambahan), seperti bahan pangan atau
obat-obatan bahkan ternak untuk kebutuhan hidup sehari-hari dalam rangka hidup
sehat, murah dan mudah. Hal banyak yang tidak menyadari akan akan potensi ini.
2.Taman pekarangan merupakan bagian dari pembangunan hutan kota, guna lingkungan
yang nyaman, sehat dan indah, sangat mendukung pembangunan yang berkelanjutan
dan berwawasan lingkungan, karena pemanfaatan pekarangan merupakan pelestarian
ekosistem yang sangat baik.
3.Jika setiap rumah mempunyai pekarangan yang indah serta terpelihara, sekaligus
akan meningkatkan pembangunan hutan kota yang berbentuk menyebar dengan struktur
yang berstrata akan meningkatkan kualitas lingkungan yang sejuk, sehat dan indah.
4.Dengan membuat taman pekarangan, ini berarti akan dapat menyalurkan segala
kreatifitas dan kesenangan ataupun hobi semua anggota keluarga.
5.Unsur utama dalam pemanfaatan pekarangan adalah tanaman, seperti tanaman
hortikultura, obat-obatan, bumbu-bumbuan, atau rempah-rempah.
6.Pemanfaatan pekarangan dengan taman pekarangan yang konseptual akan memberikan
kenyamanan serta dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah dan rohaniah terutama anggota
keluarga, maupun siapa saja yang lewat disekitar rumah kita.
7.Pemanfaatan pekarangan mengandung nilai pendidikan khususnya mendidik anggota
keluarga cinta lingkungan, juga pekarangan dapat menjadi laboratorium hidup.
APOTIK HIDUP DAN WARUNG HIDUP
Pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif seperti tanaman hortikul-tura (tanaman buah-buahan, sayur-sayuran dan tanaman hias), rempah-rempah, obat-obatan, bumbu-bumbuan dan lainnya akan memberikan keuntungan yang berlipat ganda. Pada tahun 1980an terutama di DKI Jakarta, pemanfaatan peka-rangan dengan tanaman produktif dalam bentuk apotik hidup dan warung hidup sudah merupakan program pemerintah, sampai pada saat impor hasil hortikultura, obat-obatan, membanjiri negara kita. Pada saat buah-buahan atau sayuran segar di impor dari luar negeri, telah menyebabkan orang sudah kurang memperhatikan pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif. Hal ini tidak mengherankan karena siapa saja dapat membelinya dengan mudah dan murah di mana saja, dengan kualitas yang lebih bagus, termasuk dipasar tradisional.
Prinsip utama apotik hidup dan warung hidup adalah pemanfaatan pekarangan dengan tanaman produktif. Tanaman produktif itu adalah tanaman yang menghasil-kan baik buah, bunga, biji dan daun yang berguna untuk dimakan, maupun untuk obat yang dapat memenuhi kebutuhan jasmaniah. Apotik hidup, sebenarnya bermakna tanaman obat-obatan yang ditanam di pekarangan. Sedangkan warung hidup berasal dari kata warung, yaitu hasil pekarangan apa saja yang dapat dijual di warung, artinya dapat menjadi uang. Dalam hal ini apotik hidup dan warung hidup juga mempunyai fungsi sosial, yaitu jika tetangga memerlukan obat, dapat kita berikan, atau jika hasil buah banyak, selain dikonsumsi anggota keluarga, sebagian diberikan ke tetangga atau ke kerabat lainnya. Jenis tanaman untuk apotik hidup dan warung hidup sangat banyak dan perlu dikembangkan.
Apotik hidup dan warung hidup ditanam dipekarangan, jika pekarangannya kecil dapat ditanam di dalam pot. Teknologinya dapat secara tradisional, hidroponik, aeropunik maupun melalui media lainnya. Sedangkan budidaya secara hidroponik, kita dapat menanamnya dalam pot, plastik, bambu, maupun menggunakan bekas-bekas apa saja yang dapat menampung air, atau krikil dan bahan nutrisi yang kita berikan. Bila pemanfaatan pekarangan semakin berkembang, dengan kreatifitas ibu dan anggota keluarga lainnya pada suatu saat dapat menjadi industri pekarangan, sehingga dapat menjadi usaha tersendiri. Sudah banyak contohnya ibu-ibu yang berhasil dimulai dari pemanfaatan pekarangan.
Dari pengertian sederhana tentang taman pekarangan, sudah saatnya setiap keluarga membuat taman pekarangan secara konseptual, murah dan mudah dilaksanakan karena:
1.Taman dibuat oleh keluarga, sesuai dengan keinginan dan kebutuhan anggota
keluarga, dapat menyaluskan kreatifitas anggota keluarga.
2.Pemeliharaan dapat lebih teliti, sepanjang waktu oleh anggota keluarga
3.Dapat menyalurkan hobbi anggota keluarga, misalnya koleksi tanaman obat-obatan,
tanaman hia lainnya seperti kaktus, anggrek atau mawar.
4.Berkualitas tinggi dan dapat dinikmati sepanjang tahun, karena dapat dipetik
sepanjang tahun,
5.Dapat dipetik sepanjang waktu, disaat diperlukan seperti tanaman obat-obatan atau
bumbu.
6.Dapat memetik hasil dalam keadaan segar dan masak di pohon.
7.Dapat memberikan pendapatan tambahan, dan hubungan baik dengan tetangga.
8.Dapat memberikan pekerjaan selingan bagi ibu-ibu dan anggota keluarga
9.Tempat menyalurkan kreatifitas terutama anak-anak dan anggota keluarga lain.
10.Mengandung unsur pendidikan, penelitian-penelitian, mendidik anak-anak mencintai
tanaman dan lingkungan, latihan disiplin, belajar bertanggung jawab dengan
memberikan tugas menyiram, memupuk, pengendalian hama dan gulma. Dalam hal ini,
pekarangan dapat menjadi laboratorium hidup.
11.Dapat pula memelihara ternak, kotorannya dapat menjadi pupuk.
12.Pekarangan dapat menjadi ekosistem yang lengkap. Taman pekarangan termasuk hutan kota yang berbentuk menyebar dan berstara banyak. Hutan kota yang berbentuk menyebar dan berstrata banyak merupakan hutan kota yang paling efektif dalam menanggulangi perubahan suhu, terutama di daerah Tropis (Zoer’aini Djamal Irwan, 1994). Bila setiap pekarangan dimanfaatkan secara konseptual, tentu akan terbangun hutan kota berbentuk menyebar dan berstrata banyak di mana-mana. Semakin berkembang hutan kota menyebar dan berstrata banyak, diharapkan dapat meningkatkan kualitas lingkungan, sehingga dapat menanggulangi masalah perubahan iklim karena kenaikan panas bumi.
PENUTUP
Dari apa yang telah diuraikan secara ringkas tadi, marilah kita memanfaatkan pekarangan kita sekarang juga bagi yang belum dan mari ditingkatkan bagi yang sudah. Pemanfaatan pekarangan itu sangat menguntungkan, karena dipekarangan kita dapat:
1.Menciptakan lingkungan hidup nyaman, sehat dan estetis, dengan taman pekarangan
akan dapat mengkreasikan seluruh aktivitas secara maksimal setiap anggota keluarga.
2.Menciptakan taman pekarangan yang menarik akan membuat penghuni betah dirumah,
dapat dinikmati setiap saat
3.Jika setiap pekarangan dimanfaatkan menjadi taman pekarangan dengan apotik dan
warung hidup, akan memberikan keuntungan yang luar biasa.
4.Pemanfaatan pekarangan dengan apotik hidup dan warung hidup dilengkapi ternak akan
menunjang lingkungan yang nyaman, sehat dan estetis.
5.Mengingat taman pekarangan mempunyai banyak fungsi, pemanfaatan pekarangan dengan
apotik hidup dan warung hidup perlu dikembangkan secara intensif, terutama dalam
menggali potensi pekarangan, sehingga usaha yang menguntungkan. Oleh karena itu
perlu ada penyuluhan dan bantuan dana bagi keluarga yang berpotensi untuk
mengembangkannya..
6.Bila setiap keluarga membuat taman pekarangan apotik hidup dan warung hidup secara
konseptual akan membantu mengatasi masalah harga obat, harga buah-buhan, sayur-
sayuran yang tinggi pada dewasa ini. Dengan demikian masyaraktpun tidak perlu
membeli obat-obatan impor, buah-buahan, sayur-sayuran maupun bunga impor.
Kamis, 22 Juli 2010
Senin, 19 Juli 2010
ALAM TAKAMBANG MANJADI GURU
Oleh: Prof. DR. Ir. Zoer'aini Djamal Irwan, M.S
Minangkabau terkenal dengan alam yang elok dan indah, disitu banyak terdapat potensi untuk berekreasi bagi pariwisata. Seperti dikatakan elok ranahnya. Minangkabau, rupo karambia tinggi-tinggi cando pinangnyo lingguyaran, rupo rumpuiknya ganti-gantian, gunuong Marapi jo Singgalang, Tandikat jo gunuong Sago, Pasaman jo gunuong Talang, nan bagunuong babukik-bukik, nan bahutan barimbo labek, nan babukik baguo batu, nan bangarai balurah dalam, nan badanau aie mangalie, nan batasik bapayau-payau. Demikian pula Minangkabau terkenal dengan daerah yang budayanya sangat menonjol. Kalau kita datang ke perpustakaan di negeri Belanda, disitu lengkap tertuang tentang adat budaya Minangkabau. Konon pada zaman Belanda, mereka berusaha membodohi orang kita, dan semua dokumen tentang sejarah ranah Minang, dihancurkan. Mungkin yang bersisa itu sangat sedikit jika ada. Sehingga sulit mencari sejarah Minangkabau yang sesungguhnya, kecuali ke negeri Belanda.
Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam Minagkabau. Pengertian alam disini mempunyai makna yang sangat luas dan sempurna. Alam bagi orang Minangkabau ialah segala-galanya. Di alam kita lahir dan nantinya kita mati, dan di alam pula kita hidup dan berkembang. Kita selalu dapat mengambil contoh ke alam dalam segala hal. Itulah barangkali dasarnya nenek muyang orang Minangkabau menjadikan; “alam terkembang menjadi guru” sebagai filosofi hidupnya.
Jika kita telaah, sebenarnya apa yang ada dialam itu selalu dalam keadaan seimbang, dan selalu terjadi saling mempengaruhi, yang hidup dengan yang hidup, yang tidak hidup dengan yang tidak hidup dan yang hidup dengan yang tidak hidup. Disamping itu pula masing-masing mempunyai fungsi dan peranan untuk mencapai keseimbangan alam tadi. Ketergantungan satu sama lain dari semua komponon yang ada di alam ini, merupakan suatu sistem yang kita sebut dengan ekosistem. Demikianlah kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh alam itu. Lingkungan alam itu sangat mempengaruhi cara hidup dan cara berpakaian setiap orang yang ada di lingkungan itu. Kenapa orang Minang setiap hari memasak menggunakan santan seperti memasak kalio, memasak rendang, ditambah pula dengan memasak gorengan apa saja. Kenapa orang Irian memakai koteka dari kulit kayu, dan makanan pokoknya sagu. Kenapa orang eskimo itu suka memakai pakaian berbulu yaitu dari kulit binatang (beruang). Demikian pula ada daerah yang makanan pokoknya pisang dan suka memakai sutera. Artinya cara makan dan berpakaian seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.
Oleh karena itulah kita harus mempunyai jatidiri, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita jangan meniru apa yang kita lihat atau yang kita perhatikan misalnya dalam tayangan TV. Agama Islam juga mengajarkan dan dapat dipelajari dari banyak ayat dalam Al Qur’an tentang alam. Jika kita memelihara lingkungan kita, menjaga keseimbangan alam tadi, itu berarti ibadah. Pembangunan yang berwawasan lingkungan yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1982, sebenarnya sesuai dengan alam terkembang menjadi guru. Sayang sekali dalam pelaksanaannya belum semua orang menyadari, mengetahuinya, apalagi menghayatinya. Walaupun masih ada orang dengan keserakahannya pura-pura tidak tahu dan tidak peduli.
Bicara masalah alam dan lingkungan sangat luas. Pada kesempatan lain penulis akan memaparkan tentang penghijauan perkotaan dan hutan kota.
Minangkabau terkenal dengan alam yang elok dan indah, disitu banyak terdapat potensi untuk berekreasi bagi pariwisata. Seperti dikatakan elok ranahnya. Minangkabau, rupo karambia tinggi-tinggi cando pinangnyo lingguyaran, rupo rumpuiknya ganti-gantian, gunuong Marapi jo Singgalang, Tandikat jo gunuong Sago, Pasaman jo gunuong Talang, nan bagunuong babukik-bukik, nan bahutan barimbo labek, nan babukik baguo batu, nan bangarai balurah dalam, nan badanau aie mangalie, nan batasik bapayau-payau. Demikian pula Minangkabau terkenal dengan daerah yang budayanya sangat menonjol. Kalau kita datang ke perpustakaan di negeri Belanda, disitu lengkap tertuang tentang adat budaya Minangkabau. Konon pada zaman Belanda, mereka berusaha membodohi orang kita, dan semua dokumen tentang sejarah ranah Minang, dihancurkan. Mungkin yang bersisa itu sangat sedikit jika ada. Sehingga sulit mencari sejarah Minangkabau yang sesungguhnya, kecuali ke negeri Belanda.
Orang Minangkabau menamakan tanah airnya Alam Minagkabau. Pengertian alam disini mempunyai makna yang sangat luas dan sempurna. Alam bagi orang Minangkabau ialah segala-galanya. Di alam kita lahir dan nantinya kita mati, dan di alam pula kita hidup dan berkembang. Kita selalu dapat mengambil contoh ke alam dalam segala hal. Itulah barangkali dasarnya nenek muyang orang Minangkabau menjadikan; “alam terkembang menjadi guru” sebagai filosofi hidupnya.
Jika kita telaah, sebenarnya apa yang ada dialam itu selalu dalam keadaan seimbang, dan selalu terjadi saling mempengaruhi, yang hidup dengan yang hidup, yang tidak hidup dengan yang tidak hidup dan yang hidup dengan yang tidak hidup. Disamping itu pula masing-masing mempunyai fungsi dan peranan untuk mencapai keseimbangan alam tadi. Ketergantungan satu sama lain dari semua komponon yang ada di alam ini, merupakan suatu sistem yang kita sebut dengan ekosistem. Demikianlah kehidupan kita sangat dipengaruhi oleh alam itu. Lingkungan alam itu sangat mempengaruhi cara hidup dan cara berpakaian setiap orang yang ada di lingkungan itu. Kenapa orang Minang setiap hari memasak menggunakan santan seperti memasak kalio, memasak rendang, ditambah pula dengan memasak gorengan apa saja. Kenapa orang Irian memakai koteka dari kulit kayu, dan makanan pokoknya sagu. Kenapa orang eskimo itu suka memakai pakaian berbulu yaitu dari kulit binatang (beruang). Demikian pula ada daerah yang makanan pokoknya pisang dan suka memakai sutera. Artinya cara makan dan berpakaian seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.
Oleh karena itulah kita harus mempunyai jatidiri, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Kita jangan meniru apa yang kita lihat atau yang kita perhatikan misalnya dalam tayangan TV. Agama Islam juga mengajarkan dan dapat dipelajari dari banyak ayat dalam Al Qur’an tentang alam. Jika kita memelihara lingkungan kita, menjaga keseimbangan alam tadi, itu berarti ibadah. Pembangunan yang berwawasan lingkungan yang dicanangkan oleh pemerintah Indonesia pada tahun 1982, sebenarnya sesuai dengan alam terkembang menjadi guru. Sayang sekali dalam pelaksanaannya belum semua orang menyadari, mengetahuinya, apalagi menghayatinya. Walaupun masih ada orang dengan keserakahannya pura-pura tidak tahu dan tidak peduli.
Bicara masalah alam dan lingkungan sangat luas. Pada kesempatan lain penulis akan memaparkan tentang penghijauan perkotaan dan hutan kota.
Langganan:
Komentar (Atom)